Jalan impian Rakyat Kedungjati


Belum genap jam 6.00, Roi harus menapaki jalan beraspal yang rusak parah sepanjang 3 km untuk berangkat menuntut ilmu ke SD Nogosari. Bersama teman-teman sepermainannya, Roi selalu bersenda gurau sepanjang perjalanan guna menghilangkan penat karena berjalan kaki.

Tidak ada sekolah di dusun Kedungjati sehingga anak-anak harus ke dusun Nogosari untuk SD, sedangkan siswa SMP paling dekat harus ke samping kantor kelurahan untuk bersekolah di SMP N 3 Imogiri.Biaya sekolah semakin mahal karena mereka harus naik sepeda motor dikarenakan jalan yang jauh dan tidak adanya angkutan umum dari Kedungjati kesana.

Di bagian lain jalan Kedungjati, bu Tirah memanggul rumput, ditambah singkong hasil berkebunnya, belum lagi kayu bakar dan daun-daunan untuk pakan binatang ternak. Punggung beliau terlihat penuh muatan. Tubuh setengah bayanya terlihat laksana Rambo, gigih dan kuat.

Jalan rusak beliau susuri dengan muatan penuh di punggung demi memenuhi kebutuhan keluarga dan ternak beliau. Meski kadang mengeluh dengan kondisi jalan, bu Tirah tetap semangat menapaki jalan rusak sepanjang 3 km.

Lain lagi dengan Mas Mulyono yang harus bertarung melawan maut ketika naik turun jalan Kedungjati menyusuri turunan berbahaya, aspal rusak bertaburan batu-batu kecil yang lepas dari aspal. Bekerja di SPN (Sekolah Polisi Nasional) membuatnya harus naik turun setiap hari.

Demi mencari nafkah untuk keluarganya, Mas Mulyono tidak membiarkan semangatnya luntur dikalahkan kondisi jalan. Bersama puluhan pemuda dan kepala keluarga lainnya, beliau menyusuri jalan Kedungjati.

Paradoks Kedungjati
Di kala banyak orang ribut tentang kemacetan jalan yang belum ada solusinya. Dusun Kedungjati justru bebas dari kemacetan. Daerah ini bebas dari kemacetan karena satu-satunya jalan untuk menuju dusun kedungjati rusak total. Jalan sepanjang 3 km ini terakhir diaspal tahun 2004 dengan bantuan dari pemerintah daerah dan dana swadaya dari masyarakat.

Terletak jauh dari pusat pemerintahan, 24.5 km dari pusat kota Yogyakarta dan 7.6 km dari kantor kelurahan , dusun Kedungjati bisa jadi merupakan salah satu dusun paling tertinggal di kabupaten Bantul, bahkan mungkin DI Yogyakarta. Salah satu dari 18 dusun di desa Selopamioro, kecamatan Imogiri, Bantul, dusun Kedungjati merupakan satu-satunya dusun di Selopamioro yang belum beraspal dengan layak.

Setelah 6 tahun, jalan rusak parah sehingga jalan yang dulu setelah ketika masih beraspal dengan baik bisa ditempuh selama 10-15 menit, kini setelah mengalami kerusakan harus ditempuh selama minimal 30menit.
Letaknya yang berada di lereng bukit dengan jalan utama berkelok-kelok, naik-turun, seperti perjalanan mendaki gunung.Kerusakan jalan ini semakin membuat Kedungjati terisolisasi dari dunia luarserta menghambat berbagai aspek kehidupan di Kedungjati.

Dari aspek ekonomi penduduk mengalami kesulitan untuk mendistribusikan hasil bumi mereka karena sulitnya jalan menuju pasar, sehingga hanya sekali dalam 2 minggu warga pergi ke pasar untuk belanja kebutuhan sehari-hari mereka. Perjalann ke tempat kerja pun sangat susah dan lama.

Dari segi pendidikan sangat terlihat nyata pengaruhnya pada anak-anak yaitu penurunan konsentrasi belajar karena sebagian besar dari mereka berjalan kaki menuju sekolah sehingga sebagian besar energi mereka terkuras. Biaya pendidikan menjadi semakin mahal kerena tidak adanya angkutan umum di dusun Kedungjati sehingga anak-anak yang SMP sering meminta dibelikan sepeda motor sebagai sarana transportasi ke sekolah yang paling dekat lokasinya berada di dekat kantor kecamatan Imogiri.

Dari aspek sosial pengaruhnya dapat terlihat dari enggannya sebagian warga untuk menghadiri kegiatan yang diadakan karena jalan yang sulit untuk ditempuh. Tidak aktifnya PKK dan kelompok tani menjadi dampak logis dari rusaknya jalan.

Warga kedungjati sangat mengimpikan jalan untuk diperbaiki, karena kondisi jalan yang layak dan aman merupakan prasyarat perumahan yang layak dan sehat. Tanpa adanya infrastruktur jalan yang memadai, akses masyarakat terhadap kepentingan ekonomi, pendidikan dan pengetahuan, teknologi baru, hubungan sosial, budaya, dan informasi akan sangat terhambat.

Jalan sepanjang kurang lebih 3 km tersebut adalah satu-satunya pembuka akses dunia luar ke dusun Kedungjati dan dari Kedungjati ke dunia luar. Jalan yang rusak parah, aspal yang sudah terkelupas, batu-batuan lepas mudah menggelincirkan kendaraan, lebar ruas jalan yang sempit dan diperparah lagi dengan saluran irigasi yang jelek semakin memancing terjadinya kecelakaan di sepanjang jalan.

Perhatian pemerintah sangat diimpikan oleh masyarakat. Beberapa orang-orang di negeri ini hanya berkunjung ke Kedungjati hanya bisa melihat betapa buruknya daerah ini, namun tak mampu berbuat apa-apa untuk daerah tertinggal ini.
Pemukiman Ideal

Kondisi jalan yang layak dan aman merupakan prasyarat perumahan yang layak dan sehat. Tanpa adanya infrastruktur jalan yang memadai, akses masyarakat terhadap kepentingan ekonomi, pendidikan dan pengetahuan, teknologi baru, hubungan sosial, budaya, dan informasi akan sangat terhambat.

Untuk mewujudkan pemukiman yang layak dan nyaman di dusun Kedungjati, sudah semestinya akses masyarakat terhadap dunia luar, dan sebaliknya, harus dibuka. Jalan yang menjadi jembatan penghubung masyarakat dengan dunia luar sudah semestinya memenuhi standar kriteria keamanan dan kenyamanan.
Masyarakat dusun Kedungjati sangat berharap bisa bekerjasama dengan berbagai pihak untuk bersama-sama mensinergikan upaya untuk memperbaiki kondisi jalan dusun. Apakah kita hanya bisa diam terbisu merespon ajakan mereka?

Advertisements