Menasehati dalam Sunyi, Menginspirasi lewat Aksi


Gyro Drop

Gyro Drop di Lotte World, Seoul

Sudah menjadi kodrat manusia bahwa setiap dari kita tidak akan luput dari kesalahan dan pasti masing-masing dari kita pun punya kekurangan dan keburukan. Sebagai makhluk yang ditakdirkan oleh-Nya sebagai pemimpin di muka bumi ini, setiap dari kita dikaruniai-Nya dengan kebaikan dan keunggulan dibandingkan orang lain. Tentunya kita perlu senantiasa berjuang untuk meningkatkan kelebihan dan kebaikan kita, serta pada saat yang sama berupaya untuk menekan kesalahan dan meminimalisasi kekurangan kita.

Dengan hidup bermasyarakat, kita pasti akan berinteraksi dengan orang lain yang karakternya berbeda dengan kita, pun begitu pula kelebihan dan kekurangannya. Dalam interaksi itu kita bisa belajar akan kelebihan orang lain, berupaya menirunya agar kita pun makin berkembang. Pada saat yang sama, kita pun akan lebih mengenal kekurangan-kekurangan kita yang secara perlahan kita upayakan untuk kita hilangkan dari diri kita.

Karena kita seringkali kurang jeli dalam melihat kekurangan kita, serta kadang sungkan untuk mengakui kelebihan orang lain, maka tidak jarang secara tidak sadar kita sendiri menghambat kemajuan perkembangan diri. Disinilah perlunya nasehat dari orang lain, nasehat yang kita harapkan disampaikan dengan cara terbaik kepada kita. Idealnya. Tetapi kondisi dalam hidup lebih sering tidak ideal. Banyak orang yang berniat memberikan nasehat kepada kita tetapi caranya kurang bisa kita terima, sehingga nasehatnya pun mental. Ada pula orang yang dengan dalih memberikan nasehat tetapi justru dengan mempermalukan kita di hadapan orang lain atau bahkan masyarakat umum. Oleh sebab itulah diperlukan kebesaran hati untuk menerima nasehat demi kebaikan kita sendiri, walau sering tidak mudah.

Sahabat. Teman. Karib. Mereka lah orang-orang yang menyayangi kita. Mereka tahu kita tidak lepas dari cela, tapi mereka tidak pernah mengolok-ngolok apalagi menjatuhkan kita di depan publik. Kepahaman mereka akan kelebihan kita pun membuatnya mengontrol kita agar tidak lepas kendali dan besar kepala. Cara mereka memberikan nasehat dan inspirasi pun mereka upayakan agar menjadi jalan terbaik tersampaikannya nasehat tersebut pada kita. Beberapa sahabat saya memberikan nasehat dengan (a) teladan, (b) kisah-kisah yang secara implisit terdapat nasehat di dalamnya, (c) menyampaikan nasehat secara eksplisit ketika kami hanya berdua, (d) jika belum mempan, maka dalam forum-forum kecil seperti rapat anggota kos-kosan, rapat organisasi, dsb, (e) baru dengan jurus-jurus ekstrim ketika keempat langkah sebelumnya tidak mempan (misal: ditabok agar bangun sholat Subuh, atau bahkan dibentak-bentak jika prestasi tidak optimal). Indahnya semua itu dilakukan dalam tahap yang telah mereka ukur agar paling pas dan dengan tujuan demi kemajuan saya.

Kunjungan Sahabat-Sahabat Istimewa

Bulan Mei 2014 kemarin menjadi momen yang sangat istimewa dalam fase ujung tahun pertama program S2 saya. Dua sahabat istimewa berkunjung ke Seoul, sahabat-sahabat yang selalu memancing diri ini agar senantiasa berkembang. Kawan yang lama terpisah dalam jarak, tetapi senantiasa tersambung dalam doa dan dekat di qalbu. Pertemuan singkat, hanya beberapa hari. Namun justru di situlah tercermin kualitasnya: kualitas dari indahnya ukhuwah/persahabatan.

Dua orang dengan jalan hidup yang sekarang berbeda. Satu pelajar yang sedang menempuh program master di Jepang, satu lagi seorang professional di dunia kerja yang sedang menapaki fase promosi sebagai kepala cabang perusahaan. Dua kawan ini menunjukkan kepada saya bagaimana inspirasi dan nasehat itu tidak selamanya harus diungkapkan secara eksplisit atau dipamerkan. Dengan perilaku keteladanan serta ketersembunyiannya pada penggalan-penggalan ceritanya, nasehat dan inspirasi itu lebih manis rasanya dan mampu melekat jauh di dasar kalbu. Perilaku interaksi mereka dalam beberapa hari mampu menasehati dalam sunyi; cerita-cerita aktivitas mereka pun hadir sebagai motivasi bagi diri ini.

Kawan-kawan, saya tak hendak pamer akan kebaikan mereka, atau me’lebay’kan kisah ini. Izinkanlah saya mengisahkan dua sahabat istimewa yang walau sekejap hadir di Seoul, Korea, untuk sejenak menengok dan berdiskusi dengan saya, namun mampu meninggalkan bekas yang luar biasa. Semoga kita bisa belajar dari mereka dalam berinteraksi dengan saudara kita yang lain, sehingga nantinya kita bisa menghadirkan nasehat dalam sunyi serta inspirasi via keteladanan aksi.

Sosok pertama, si F. Kawan sekaligus lawan ‘berlari’ yang selalu membuat diri lelah beradu ‘lari’ dengannya. Sebagai seorang yang sangat terencana dalam setiap kegiatannya, awalnya saya heran ketika dia sampai di Korea dengan seolah-olah tanpa rencana. “Kok bisa ya dia ke Korea dengan tanpa planning, kagak bener nih orang. Mbikin rusuh aja!” begitu kira-kira bayangan yang terbersit di kepala pada saat menjemputnya di bandara. Karena musim liburan, jadi di Korea pun sedang ada beberapa kegiatan penting di beberapa kota, akhirnya dia pun beberapa hari sempat saya kacangin. Lebih aneh lagi ketika saya menyadari bahwa salah satu hari dalam kunjungannya itu adalah hari ulang tahunnya. Saat di Korea pun dia tidak bisa saya ajak ke banyak tempat, hanya seputaran Seoul dan Yongin saja yang bisa kami kunjungi. Sangat aneh, ibarat melihat Lionel Messi tiba-tiba meminta dipinjamkan ke klub di Thailand selama satu musim, atau laksana Bill Gates yang pengen menjadi karyawan Advan di Indonesia.

Disinilah saya menemukan kemuliaan dari kunjungan si F tadi. Bukan jalan-jalan ke Korea yang dia tuju. Tidak juga perayaan ulang tahunnya yang dia harapkan dari wiasatanya ke Seoul. Pertemuan dan diskusi dengan sahabat-sahabatnyalah yang menjadi misinya. Momentum untuk makin merekatkan ikatan persaudaraan yang lama hanya tersambung via video call Skype atau chatting di Facebook. Obrolan-obrolan tentang keseharian kami ketika hidup di negeri asing, diskusi tentang kesulitan-kesulitan kami yang barangkali orang tidak bayangkan karena pandangan berlebih orang terhadap kemampuan kami, pembicaraan dalam bus tentang keadaan orang tua kami masing-masing dan frekuensi kami menelepon/ditelepon oleh orang tua, gojekan tengah malam tentang kekonyolan kami sambil ditemani bakso, atau momen menikmati tantangan Gyro Drop di Lotte World menanamkan banyak nasehat pada kami masing-masing.

Saya tidak tahu apa yang dia dapatkan dari perjalanannya di Korea. Jauh-jauh ke Korea hanya untuk ditinggal di rumah beberapa hari tanpa pelayanan bukanlah kenangan indah, dan saya yakin makan gulai kambing di Seoul pada hari ulang tahunnya bukanlah hal yang terlalu istimewa baginya. Namun saya yakin banyak yang berhasil kami petik dari diskusi-diskusi dan sharing-sharing kami, boosting semangat ketika perjuangan di depan kami makin terjal. Dia memang tidak bilang kepada saya untuk lebih sering menelpon kedua orang tua saya, tetapi sharingnya akan pentingnya komunikasi dengan kedua orang tua apalagi dalam usia mereka yang sudah mulai renta membuat saya berpikir perlu meningkatkan komunikasi dengan beliau-beliau. Tak ada ucapan darinya untuk lebih rajin beraktivitas di lab dan mengurangi kegiatan non-akademis, namun nasehat itu secara implisit tersembunyi dalam ceritanya tentang bagaimana dia mengatur aktivitasnya di Jepang sana. Keberanian dan provokasinya pada kami (saya dan kawannya satu lagi) untuk berani naik Gyro Drop menunjukkan sikap kompetitif dan keberaniannya yang mana saya masih perlu meningkatkan diri. Itulah si F, yang dalam kesunyian ceritanya banyak tersembunyi nasehat tulus penggugah nurani.

Beberapa minggu kemudian giliran si R yang menyambangi saya di Seoul. Dalam rangkaian business tripnya saya bisa nyelip di tengah-tengak aktivitas tahunan kantor bagi karyawan-karyawan berprestasi itu. Mirip dengan kisah si F, tidak ada perintah atau himbauan langsung dari mulutnya kepada saya. Namun terpendam ribuan hikmah dalam penggalan-penggalan cerita aktivitasnya di kantor, perjuangan menjaga idealisme di tengah pragmatisme.

Berjalan di tengah malam menyusuri gelapnya sungai Han (Han Gang) nan tersohor menghadirkan kisah-kisahnya membina rumah tangga di usia nan masih muda. Sedapnya Tteokpokki, serta gurihnya Omuk/Odeng serta sensasi Kimbab menemani obrolan tengah malam kami tentang lika-likunya dunia marketing. Hingga semalaman suntuk berkeliling Dongdaemun sambil mendengarkan kisahnya tentang pentingnya mengontrol jarak dengan rekan kerja, membatasi diri dalam pergaulan serta menjaga kepercayaan dan mencari teman yang pas dalam pergaulan, hingga mengajak ke arah kebaikan pada orang-orang di lingkungan kerja. Inspirasi-inpirasi akan pengejawantahan idealisme di dalam lingkungan nyata, kala dibenturkan dengan pragmatisme dan orientasi materialisme.

Belajar dari Si F dan Si R

Memang adalah kewajiban kita untuk menasehati kawan kita, demi kebaikan dia serta perwujudan dari kewajiban kita untuk mencegah keburukan dan mengajak akan kebaikan. Namun tidak selamanya nasehat harus disampaikan secara langsung, apalagi sampai menggarami goresan luka. Akan sangat indah jika kita bisa mengontrol cara kita untuk menasehati kawan, mengupayakan cara sebaik mungkin agar bisa diterimanya. Maka perlu juga dalam banyak kesempatan kita belajar dari si F dan si R, untuk menasehati dengan aksi keteladan dan memberikan inspirasi lewat hikmah-hikmah implisit dalam deret kata kita.

 

 

Advertisements