Mengapa Kita Perlu Menulis: bagian 2


(Artikel ini merupakan kelanjutan dari tulisan Mengapa Kita Perlu Menulis)

Strukturisasi Alur Berfikir Latihan

Mulut dan jari kita tidak bisa bekerja secepat otak kita, serta pemahaman kita dan orang lain juga berbeda dan kita membutuhkan medium untuk bisa mentransfer pandangan kita kepada orang lain. Salah satu cara yang bisa kita pakai untuk melatih kemampuan mentransfer ilmu, yang membutuhkan kebenaran alur berfikir agar mudah diterima, adalah dengan menulis. Dalam menulis, kita ingin menyampaikan suatu pesan kepada pembaca dan untuk memastikan bahwa gagasan kita itu sampai kepada pembaca kita perlu menyampaikannya dengan cara yang runtut dan bisa diterima. Proses yang sama terjadi dalam transfer ilmu antara dosen-mahasiswa, penyampaian dakwaan terhadap tersangka dari jaksa penuntut kepada hakim pimpinan sidang, atau tawar-menawar harga ikan di pasar Bring Harjo Jogja. Tujuannya saya: mengupayakan supaya pandangan/sikap kita bisa tersampaikan kepada orang lain sehingga dia paham akan sikap kita dan syukur-syukur mengambil pihak yang sama dengan kita.

Dengan inilah kita mulai meletakkan ‘simpul-simpul’ gagasan kita, lalu menghubungkannya dalam suatu jaringan yang saling terikat satu dengan lainnya, hingga menghadirkan suatu cerita/alur dengan kepaduan yang bisa diterima orang lain. Kita mencoba memposisikan diri sebagai orang lain, dan mengeksplor bagaimana caranya agar pesan kita bisa diterimanya, dengan gaya bahasa/cara penulisan yang paling pas baginya.

Let's Write!

Let’s Write!

Mengambil Sikap dan Menerima Kritik Evaluasi

20 tahun mendatang, kita akan berada pada posisi yang rawan kritik segala sikap kita akan membawa konsekuensi pada sejumlah orang, sehingga kita harus sangat hati-hati dan bijak dalam bersikap/berpihak. Ini pun bisa terasah dengan menulis. Kala kita mengungkapkan gagasan, tak jarang banyak yang berkomentar tidak sepakat atau malah mengkritik kita habis-habisan. Bisa jadi karena lemahnya pemahaman kita atau juga timbul akibat kurang bijaknya kita dalam menyampaikan gagasan tersebut.

Dengan pelan-pelang mengasah keluasan pandangan serta kedewasaan/kebijaksanaan dalam menyampaikan (salah satunya via tulisan) kita akan mampu menjadi orang yang lebih cerdas dan bijak, sehingga jika kesempatan besar datang, kita siap untuk menyambut kesempatan itu. Memilih untuk bersikap seringkali tidak mudah, tetapi kesiapan untuk menanggung konsekuensinya akan jauh lebih susah. Misalnya kita menulis tentang isu-isu ‘basah’ seperti ‘Kenaikan BBM’ atau ‘Kebenaran Kasus Korupsi Hewan Ternak Tertentu’, maka kritikan/serangan dari sisi yang tidak sama dengan kita akan berdatangan. Bagaimana kita merespon akan menjadi lebih penting dibandingkan dengan apa respon kita. Suatu kemampuan yang senantiasa kita perlukan sepanjang hidup kita: kemampuan untuk bersikap, mendapatkan kritik akan sikap itu, dan menerima segala konsekuensinya dengan bijak.

Mengukur Perkembangan Pola Pikir

Seiring dengan pergantian waktu, pengalaman kita pun bertambah, juga pengetahuan kita. Salah satu output-nya adalah pola pikir kita yang semakin berkembang. Dengan menulis, kita bisa melihat ‘masa lalu’ kita, bagaimana sikap pandang kita terhadap sesuatu. Tak jarang pula kita akan meringis menertawai diri sendiri, ‘kenapa dulu saya senaif ini?’ Kondisi yang mirip ketika kita melihat foto 10 tahun silam ketika masih culun. Tak hanya bentuk fisik kita yang berubah, pola pikir (baca: kedewasaan) kita pun pastinya tumbuh. Tulisan kita bisa jadi ‘kamera’ bagi pola pikir kita dalam periode tersebut.

Prasasti Eksistensi Diri

Sangat sedikit manusia yang bisa hidup lebih dari 100 tahun. Rata-rata dari kita hanya bisa menghidup udara sampai usia 60 tahunan. Namun apakah kita hanya akan dikenang selama sama itu saja? Apakah pemikiran dan sikap kita hanya eksis ketika periode yang sangat singkat itu? Banyak tokoh yang mampu melanggengkan nama dan pemikirannya sampai waktu yang sangat panjang. Selain dengan karya atau kontribusinya, salah satu cara lain adalah dengan tulisannya. Charles Darwin dengan On Origin of Species-nya mewariskan pemikirannya dalam Evolusi hingga saat ini, lebih dari 150 tahun sejak dia menulisnya, William Shakespeare yang hanya berusia 52 tahun tetap melegenda sampai sekarang dengan tulisan-tulisannya, walau dia sudah meninggal hampir 400 tahun yang lalu.

Kita mungkin tidak bisa seperti mereka, tetapi bukan itu poin utamanya. Dengan menulis pemikiran kita bisa sampai kepada orang lain, orang yang bahkan mungkin tidak pernah kita jumpai dalam dunia nyata. Kita tidak bisa mengenal sangat banyak orang, tetapi tulisan kita (lewat Internet) mampu menyusup ke berbagai penjuru bumi, menyampaikan gagasan-gagasan kita. Orang lain bisa mengenal kita, karakter kita, pemikiran kita, hingga pengalaman kita, melalui tulisan itu. Usia dan jaringan pertemanan fisik kita mungkin tidak lama/luas, tetapi dengan tulisan, itu bisa diperpanjang. Kita tidak harus masih hidup agar orang lain bisa menggali pemikiran-pemikiran kita.

Dalam skala yang lebih kecil, cara belajar suatu bahasa asing (e.g. English) yang kita ketikkan di blog, cara menulis proposal pertukaran pelajar ke luar negeri yang kita unggah, atau kesan dan cara pandang kita terhadap suatu peristiwa di tanah asing yang kita wujudkan dalam tulisan besar peluangnya untuk menjadi rujukan orang lain dalam beberapa waktu ke depan.

Semoga uneg-uneg kecil ini semakin mengingatkan penulis agar lebih meluangkan waktu untuk berkarya dan barangkali ada satu dua orang di luar sana yang sepakat, lalu menguatkan dirinya agar semakin rajin menulis. Salam Perjuangan dan Persahabatan!

Advertisements