Bersungguh-Sungguh dalam Hidup


Salah satu hal yang bisa saya banggakan dalam kehidupan saya sampai saat ini adalah capaian meraih ranking 1 secara terus menerus dari kelas 1 SD sampai 3 SMA, atau dalam rentang selama 12 tahun tanpa henti (18 caturwulan saat SD, dan 12 semester saat SMP dan SMA). Saya tidak mengatakan hal tersebut menunjukkan bahwa saya pintar. Akan tetapi, nilai penting yang hendak saya tunjukkan adalah konsistensi dan kesanggupan menghadapi tantangan: menjaga performa di berbagai keadaan dan kondisi, dalam waktu yang relatif lama. Dari mulai sekolah di SD N 5 Plajan Jepara yang di kurang diminati oleh warga sekitar, lalu meng-upgrade diri ke SMP N 1 Pecangaan Jepara, salah satu sekolah favorit di Jepara, dan akhirnya bergabung menjadi salah satu pelajar di SMA Semesta Semarang.

Pertama, pada setiap level (SD, SMP, maupun SMA) saya berusaha untuk bisa konsisten menjadi yang terbaik di kelas. Tentu dalam waktu 3 tahun di SMA terjadi banyak gejolak peristiwa dalam hidup, pasang-surutnya motivasi: ada saat semangat belajar melambung tinggi, ada pula momentum ketika keniatan untuk berjuang bagi kawan-kawan lain di organisasi mengurangi waktu kita untuk belajar, atau misalnya harus fokus ke suatu kegiatan yang tidak berkaitan secara langsung dengan sekolah (pertukaran pelajar di negeri lain atau lembur demi olimpiade di SMA). Saya berupaya untuk menjadikan semuanya sebagai latihan, pembelajaran bagi diri sendiri dan pembuktian pada sekitar, bahwa dengan berbagai kondisi dan tantangan tersebut, saya mampu konsisten, paling tidak dalam pendidikan.

Selanjutnya, saat mengalami perpindahan tempat, dengan persaingan yang baru, kompetisi pun tentunya akan berbeda. Dari SD yang hanya diisi oleh 20 orang sekelas, kemudian harus bersaing dengan 237 pelajar lain saat SMP yang menjadi incaran banyak siswa di Jepara, tantangan yang saya hadapi pun pastinya berbeda. Selain sistem pendidikan saya di SD yang pastinya kalah dengan mereka yang sekolah di SD-SD favorit, sarana yang mereka miliki dan lingkungan sebagian besar pelajar lain lebih mendukung untuk pengembangan kompetensi mereka. Alhamdulillah dengan semangat perjuangan demi masa depan yang lebih baik dan bermartabat, tantangan itu justru membuat ‘otot perjuangan’ saya semakin kuat. Kondisi setali tiga uang pun saya alami kala maju ke jenjang persaingan di SMA.

Memanfaatkan Setiap Kesempatan dengan Baik

Saya yakin hampir setiap orang tahu akan jalan untuk meraih keberhasilan dirinya, atau minimal banyak yang punya rencana untuk meraih impian yang dia tuliskan. Akan tetapi, tidak semuanya siap dan bersedia untuk berkeringat dan berdarah-darah dalam mengeksekusi rencana-rencana hidupnya dan dalam meluangkan waktu untuk berjuang. Contoh paling mudah, semua mahasiswa tahu apa yang harus dilakukan untuk mendapatkan IPK terbaik bagi dirinya: mengerjakan tugas secara sungguh-sungguh, belajar secara rutin, memerhatikan kuliah dengan baik, bersikap sopan terhadap dosen. Walau tahu akan hal itu, rasa malas di pagi hari sering membuat sebagian dari kita untuk memilih tetap di kamar dan titip absen ke teman yang lain. Pun ketika mahasiswa lain bersusah payah mengadakan praktikum dan menganalisis hasil penelitiannya hingga larut malam, dia hanya menyontek ‘master’ praktikum seniornya yang lalu, sama persis hanya angkanya saja yang diganti sedikit. Kita tentunya sudah tahu hasilnya akan bagaimana.

Salah satu jurang pemisah antara kondisi kita sekarang dan keberhasilan yang seharusnya bisa kita raih sekarang adalah perbedaan jarak antara rencana dan eksekusi tersebut. Kita sering punya rencana, tetapi tidak sanggup mengeksekusi, dengan segala alibi kita. Konsekuensinya jelas: kita tidak bisa ke tempat yang seharusnya bisa kita capai. Semakin jauh jarak tersebut, maka makin lebar pula jarak kita dengan impian kita.

Korean Times Contest Winner, 2009

Korean Times Contest Winner, 2009

Saat berkunjung ke IBM Indonesia di Jakarta, dalam kesempatan berdiskusi dengan salah satu petinggi perusahaan, saya mendapatkan kesempatan untuk bertanya kepada beliau. Berikut kira-kira apa yang saya haturkan pada beliau. “Bu, apa yang Anda perbuat bagi perusahaan Anda sehingga mereka mempercayakan posisi sangat strategis ini kepada Anda?” Beliau menjawab, “Sederhana Mas: Kesiapan diri untuk menerima kesempatan. Kita tidak tahu kapan kesempatan akan datang pada kita. Satu-satunya cara untuk menjamin agar kita siap ketika kesempatan itu datang adalah mempersiapkan diri setiap waktu, dengan menunjukkan yang terbaik, agar saat kesempatan itu datang, kita berada dalam kondisi yang siap. Saya berusaha memberikan yang terbaik atas setiap peluang yang datang kepada saya, sehingga ketika tantangan yang lebih besar di atas saya datang, saya siap, dan itulah penyebab ketika dibutuhkan orang di posisi ini, saya dilihat sebagai orang dalam posisi yang siap.”

Begitulah cara kita menjemput kesempatan: kita “layakkan diri” untuk capaian yang kita harapkan. Ketika kita senantiasa bersungguh-sungguh dan konsisten atas apa yang kita kerjakan, maka berbagai kesempatan besar akan menjemput kita di masa depan. Setelah melalui proses yang benar dalam kerja-kerja keras itu, maka hasil yang sesuai, nan layak kita terima, yang pantas dengan kapasitas diri kita, akan datang.

Tidak selalu sama dengan yang kita harapkan memang, tetapi kerap kali jauh lebih baik dari harapan kita. Sebagai seorang pelajar yang menginginkan kesempatan untuk melanjutkan studi di luar negeri, di kampus bagus di negara maju, maka sudah wajib bagi kita untuk mempersiapkan bahasa Inggris sejak awal, masuk ke dalam birokrasi kampus agar kenal dengan para dosen senior demi mendapatkan pengalaman-pengalaman beliau (seringkali harus dengan kesabaran jika beliau susah ditemui atau kadang tips yang diberikan sudah kita tahu semua, rasa penghormatan itu tidak boleh berkurang sedikit pun), memperkuat fondasi akademis kita dengan bukti (IPK, paper, penelitian, karya nyata, dsb), dan tentunya semangat untuk senantiasa menjadi informasi dari kawan/Internet.

Bagi yang hendak bekerja di perusahaan terkemuka, maka hal yang tidak begitu berbeda pun harus kita lakukan. Pengalaman untuk mengerjakan berbagai hal dengan tuntas di kampus, aktif di berbagai kegiatan agar terbiasa dengan tekanan dan deadline tetapi masih bisa senyum sana senyum sini, membiasakan diri mengerjakan sesuatu tanpa suka mencari alasan atas kesalahan tetapi senantiasa berusaha mencari solusi atas penyelesaian, mengomunikasikan hal-hal rumit dalam bidang kita dengan bahasa sederhana pada orang lain, dan sebagainya. Hal serupa juga berlaku bagi calon aktivis LSM, PNS, wirausahawan, dan profesi (apoteker, dokter, notaris, dll).

Apalagi kita hidup di generasi yang bergerak sangat cepat, kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di masa mendatang. Seperti halnya generasi kakek-nenek kita yang belum terbiasa dengan komputer, pastinya beliau akan kesulitan jika diminta mengoperasikan iPad secara optimal. Tantangan pasar bebas dan perang pemikiran, hingga aku kecepatan perkembangan teknologi pun sangat berbeda kondisinya di masa kini dengan masa lampau. Hal yang sama pastinya akan terjadi dengan masa depan. Jika kita senantiasa bersungguh sungguh meng-upgrade diri setiap saat, untuk senantiasa ‘merasa bodoh‘, dan bersiap menghadapi tantangan, kita akan menjadi orang-orang yang mampu menghadapi masa depan.

Dalam bukunya, “Why ‘A’ Students Work for ‘C’ Students, and ‘B’ Students work for the Government,” Robert T. Kiyosaki mengatakan, “The world of tomorrow belongs to those who can process information, see relationships and trends, and be agile and responsive to change as the world changes.” Kita tidak cukup untuk menjadi orang yang hebat saat itu, tetapi harus terus mengembangkan diri (tetap merasa bodoh) agar bisa menghadapi dunia di hari esok, ‘World of Tomorrow’ dalam bahasa Robert T Kiyosaki di atas. Dalam kesungguhan itulah tantangan-tantangan yang datang akan menjadi anak tangga peningkat kapasitas diri untuk menjemput masa depan yang lebih baik dan bermartabat, bukan malah menjadikan tantangan sebagai hambatan bagi kehidupan.

Mari sama-sama kita senantiasa bersungguh-sungguh, memberikan yang terbaik, demi masa depan gemilang diri, dan masyarakat dimana kita berinteraksi. Salam persahabatan dan perjuangan.

Advertisements