Sukses dan Kebiasaan


Komik Jepang (Manga) terkenal bukan karena keunikan ceritanya saja, tetapi semangat yang bisa diambil dari cerita-cerita tersebut membuat banyak komik Jepang laris manis (walau banyak juga komik yang ‘menyesatkan kaum muda’ #youKnowWhatIMean). Salah satu yang paling saya suka adalah Naruto: kisah tentang seorang ninja muda yang berjuang untuk menjadi hokage (pimpinan para ninja).

Dari kecil Naruto selalu diasingkan oleh masyarakat, karena dia menyimpan monster (kyubi) di dalam tubuhnya. Dia pun menjalani hidupnya dalam kesendirian, dengan kerja keras untuk mengatasi masalah-masalahnya. Dari mulai dilecehkan di kelas karena otak dan skill-nya yang kalah oleh teman-temannya, dicemooh oleh masyarakat karena perilaku onarnya yang sejatinya hanya ingin mendapatkan pengakuan dari masyarakat.

Namun dia memilih untuk tidak menyerah. Dengan kengototan dan kepala batunya, dia tidak mau kalah dalam bertanding. Dari mulai mencuri dokumen hokage lalu dia bisa jurus 1000 bayangan, lalu mengalahkan para rekan-rekan seusianya dalam ujian junin (kenaikan level dalam ninja) walau harus babak belur, belajar dari Jiraiya yang kerasnya latihan hampir membunuhnya, menghadapi musuh-musuh dahsyat yang jauh di atas kemampuannya saat itu. Akan tetapi, karena tidak mau menyerah dan selalu berusaha meng-upgrade dirinya dalam setiap kesempatan, akhirnya (sampai pada saat penulisan artikel ini) dia menjadi pemimpin perang terbesar dalam dunia ninja. Dia memimpin semua ninja (termasuk hokage, dan pimpinan-pimpinan ninja dari negeri lain) untuk menghadapi Tobi.

Naruto Growing Up

Naruto Growing Up. Credit to http://titan-415.deviantart.com/

Melatih Kebiasaan

Kisah Naruto memberikan saya satu pelajaran penting: Kesuksesan adalah buah dari kebiasaan, proses panjang dengan segala lika-likunya, bukan perihal mendadak yang terjadi dalam waktu semalam. Kebiasaan naruto untuk selalu ngotot, memberikan yang terbaik dalam setiap pertarungan, tidak mau kalah dari musuhnya, kekerasankepalanya untuk menolak menggunakan nasib malangnya sebagai alibi untuk tidak menjadi lebih baik; kebiasaan itulah yang membentuk karakternya, yang mengakar dalam jiwanya, sehingga menelurkan kesuksesan sebagai ninja perkasa.

Setali tiga uang, kita pun perlu mengakrabkan diri dengan kebiasaan para pemenang agar bisa menjadi orang yang berhasil, membentuk karakter diri agar jadi pemenang. Yang paling penting adalah senantiasa ‘memperbaiki diri.’ Seperti yang saya tulis dalam artikel ‘Belajar untuk Tetap Merasa Bodoh‘ mari kita tidak cepat puas dengan apa yang telah kita capai/kondisi kita sekarang.

Saat kecil kita tidak bisa malakukan apa pun selain menangis, lalu kita akhirnya jatuh bangun untuk berlatih berjalan dan sekarang kita bisa berjalan dengan kencang tanpa harus berfikir. Bayangkan jika dulu saat bayi kita menyerah belajar berjalan. Pun sama dengan sekarang, kita akan dihadapkan pada banyak kondisi dimana kita harus meng-upgrade diri, dalam skala yang barangkali jauh lebih besar, pilihannya sama: kita ambil kesempatan itu untuk jadi lebih baik atau menghindarinya karena takut gagal.

Tak usahlah kita takut gagal dan dicemooh orang lain, toh dulu saat kita belajar berjalan kita diketawai oleh kakak kita atau kawan kita yang lebih besar beberapa tahun/bulan. Saat kita belajar hal baru, orang yang sudah bisa (agak ahli) dalam bidang itu juga besar peluangnya untuk menganggap kita bodoh atau menertawakan kita saat kita gagal. Namun, masak kita mau mengorbankan keberhasilan di masa depan hanya karena malu diketawai oleh orang lain?

Mari kita mulai biasakan diri degnan kebiasaan-kebiasaan. Merutinkan hal-hal yang mungkin tampak kecil. Karena sejatinya rutinitas itulah (walau sederhana) yang membentuk karakter utama kita. Kegiatan mercusuar yang besar dan menakjubkan itu memang sesekali perlu, tetapi tindakan rutin itu jauh lebih penting dalam pembentukan karakter.

Tindakan-tindakan seperti menyapa dengan senyum setiap bertemu saudara kita, mengosongkan perut untuk puasa sunnah, menyapa kawan-kawan lama via facebook, bergaul dengan orang-orang yang lebih kompeten, tetap rendah hati atas capaian-capaian diri, mendonasikan sebagian rizki secara rutin, sholat Dhuha secara rutin, dll akan secara tidak sadar membentuk karakter kita menjadi pribadi yang lebih dekat dengan keberhasilan di masa depan.

Advertisements