Menjadi Duta Bangsa


Setelah beberapa hari yang lalu menuliskan tentang perlunya kita mengajarkan nilai-nilai ke-Indonesia-an kepada masyarakat luar negeri (tempat di mana kita sekarang bekerja/belajar), saya berusaha untuk membawa hal ini pada cakupan yang lebih lebar: menjadikan diri kita sebagai duta bangsa.

Adalah fenomena umum bahwa ketika kita berasal dari suatu komunitas, lalu kita pindah ke komunitas lain, maka komunitas baru kita akan menganggap kita sebagai representasi komunitas lama kita. Hal yang sama pun terjadi dalam tataran kebangsaan. Saat kita belajar di luar negeri, maka segala apa yang kita lakukan akan dikaitkan dengan masyarakat Indonesia. Mulai dari cara kita menyampaikan pendapat, bagaimana kita beraktivitas di kampus, hingga (bagi yang beragama Islam) alasan kita tidak makan daging di negeri baru padahal kita dengan lahap memakannya saat di tanah air.

Kesadaran inilah yang perlu kita bangun bersama dan tanamkan baik-baik dalam kepala kita. Bahwa saat kita berada di komunitas baru (baca: luar negeri) maka kita bukan hanya akan dilihat sebagai satu satuan individu dalam populasi masyarakat, tetapi kita juga harus paham bahwa kita merupakan delegasi dari bangsa kita. Apa saja yang hendak kita lakukan perlu kita pikirkan baik-baik dan pertimbangkan konsekuensinya kepada bangsa kita.

Ada satu kasus yang menarik. Beberapa bulan yang lalu saya menemani seorang rekan dari Indonesia yang kebetulan sedang belajar di Korea Selatan untuk menyelesaikan sedikit masalahnya mengenai visa. Oleh karenanya kami perlu pergi ke kantor imigrasi. Saat para petugas imigrasi melihat dokumen kawan saya mereka agak kaget, karena bagi mereka nilai tersebut kurang maksimal. Satu dari mereka secara tiba-tiba mengatakan, “kok aneh ya.. biasanya mahasiswa Indonesia rajin-rajin dan pinter-pinter ya.. sehingga nilai mereka bagus-bagus. Kok yang ini agak beda ya?” Ternyata kawan-kawan Indonesia di Korea Selatan telah dicap sebagai mahasiswa ‘rajin dan pintar’ oleh masyarakat Korea (atau paling tidak petugas imigrasi).

Ternyata citra yang telah dibangun oleh para pendahulu saya di Korea (dan tentunya di negara-negara lain) menunjukkan bahwa bangsa kita dianggap sebagai bangsa yang cerdas. Walau selama ini rasa percaya diri banyak penduduk kita masih rendah, dan beranggapan luar negeri senantiasa lebih bagus, tetapi fakta lapangan menunjukkan berbeda. Hal inilah yang seharusnya semakin memacu kita untuk harus lebih percaya diri dan berani untuk menunjukkan identitas keIndonesiaan kita saat di negeri asing, tentunya dengan tujuan untuk semakin meningkatkan citra bangsa kita di negeri asing.

Karena sebegitu berartinya peran kita dalam meningkatkan citra bangsa di mata penduduk asing, maka kita pun perlu menjaga sikap kita dalam beraktivitas.

1. Berbaur, tetapi tetap menjaga identitas diri

Sebagai seorang individu, apalagi yang masih muda, tentunya rasa ingin bebas dan berbuat sesuai keinginan diri adalah sangat normal. Apalagi dengan adanya kesempatan langka untuk hidup di negeri orang dan berinteraksi dengan banyak kawan dari berbagai bangsa. Ada yang akhirnya mengicipi minuman yang dilarang dalam kepercayaannya, tidak sedikit pula yang melanggar norma yang dipercaya masyarakat asalnya, atau bahkan melakukan pelanggaran hukum di negara tersebut.

Ada perbedaan yang mencolok, walau sangat tipis, antara berbaur/bersosialisasi dan terbawa arus. Keduanya memang menuntut kita untuk ramah dan asyik di komunitas kita. Bedanya, dengan terbawa arus kita ikut saja apa yang menjadi nilai atau kesepakatan dalam kelompok tersebut dengan meninggalkan nilai-nilai yang kita junjung. Sedangkan dalam berbaur yang benar, kita memang harus ramah dan asyik kepada kawan-kawan kita, tetapi arahnya berusaha menarik orang ke jalur kita atau paling tidak menolak ketika diajak untuk melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan identitas kita. Penolakannya itu pun membutuhkan teknis khusus, menolak tetapi dengan cara yang tidak akan merusak hubungan dengan sekitar.

Kalau semua orang tampak sama (penampilan dan pikiran) maka kita tidak akan tampil unik. Akan tetapi jika kita berani beda, maka orang akan tahu bahwa warna kita tidak sama dan menimbulkan ketertarikan orang pada kita. Pelangi itu indah karena warnanya beragam, bukan merah semua. Orang pun akan lebih respek pada orang yang berani bilang tidak dan teguh pendiriaannya daripada orang yang terlalu mudah diarahkan dan ikut arus saja.

2. Menunjukkan kerja dan hasil yang lebih dibandingkan orang lain

Untuk menjadi perhatian, kita bisa melakukannnya dengan dua cara, menjadi yang terbaik atau yang terburuk. Orang di tengah-tengah seringkali tidak begitu diperhatikan. Oleh karena kita ingin menunjukkan kualitas bangsa kita sebagai bangsa unggul, tentunya opsi menjadi yang terburuk tidaklah masuk pilihan. Mau tidak mau kita harus bekerja keras menjadi yang terbaik, dalam bidang-bidang yang kita geluti.

Bagi yang melakukan penelitian, karya-karya yang beroutput jurnal terkenal atau paten bisa menjadi target utama. sosok Purba Purnama bisa menjadi teladan. Beliau mampu menjadi peneliti unggul di KIST (Korean Institute of Science and Technology) serta lulus dalam waktu 3.5 tahun untuk S2 dan S3. Bagi yang bekerja, selalu datang tepat waktu dan memberikan progres/karya terbaik pada atasan akan menjadi pilihan yang bagus. Pun aktivitas di luar kampus jika dikelola dengan baik bisa menjadi sarana untuk menunjukkan kinerja kita, misalnya dalam berorganisasi atau menjadi aktivis kemanusiaan.

3. Berkontribusi pada sekitar

Masyarakat Indonesia mempunyai nilai kemasyarakatan yang sangat tinggi, sehingga hidup bersama dan memberikan kemanfaatan pada sekitar merupakan karakter bangsa Indonesia. Karena saat di luar kita harus menunjukkan karakter unggul kita, maka semangat untuk bermanfaat pada sekitar harus tetap kita jaga. Di kelas misalnya, kita bisa menjadi orang yang tidak hanya memikirkan keberhasilan kita, tapi bagaimana bisa membantu dosen agar kawan-kawan yang lain bisa maju bersama dan menghasilkan karya unggul. Ketika bekerja di lab untuk riset tertentu, selain menunjukkan hasil terbaik, mari kita hangatkan suasana lab agar kawan-kawan yang lain juga semakin semangat. Misal dengan membawakan jajanan di hari tertenu, memberikan kado ulang tahun pada yang merayakan, atau sekedar melepas guyonan jika sedang pada stres.

Alumni PPSDMS di Korea yang senantiasa siap berkontribusi untuk sekitar.

Alumni PPSDMS di Korea yang senantiasa siap berkontribusi untuk sekitar.

Untuk skala yang lebih besar, kita bisa berkontribusi pada bangsa/komunitas luar kampus. Bagi umat muslim, tentunya komunitas/organisasi Islam di luar negeri banyak dan rata-rata kekurangan SDM unggul. Keterlibatan kita disana untuk berkontribusi pada lembaga tentunya sangat diperlukan. Bagi yang gemar budaya, terlibat aktif dalam pengenalan budaya bangsa bisa menjadi sarana yang tepat. Tentunya terlibat dalam organisasi mahasiswa Indonesia di negeri tersebut menjadi salah satu pilihan unggulan karena kontinuitas dan keterpercayaan lembaga serta arahnya yang relatif lebih jelas.

Advertisements