Pemuda yang Hebat itu…. (1) Bermanfaat Bagi Orang Lain


Pada saat ini terdapat sekitar 7 milyar penduduk bumi; banyak yang hidup bahagia dengan berbagai kecukupan yang mereka miliki, namun lebih banyak pula saudara-saudara kita yang masih berada dalam kekurangan. Baik kekurangan yang bersifat tersier seperti sepatu untuk bermain sepak bola yang sudah lecet; atau pun kekurangan yang lebih mendasar seperti kesulitan belajar di kelas; bahkan masih sangat banyak yang belum bisa mendapatkan hak -hak dasar kemanusiaan. Masih sangat banyak adik-adik kita yang putus sekolah dan hidupnya berakhir di jalanan karena kendala ekonomi, pun masih ada saudara-saudara di Gaza yang belum bisa merasakan kebebasan bergerak karena ancaman rudal yang bisa datang kapan saja, atau beberapa saudara kita yang terlahir dengan kekurangan fisik sehingga tidak bisa tumbuh selayaknya orang normal.

Dengan berbagai masalah yang ada, sosok pemuda yang hebat tentunya bukan mereka yang mengutuk fenomena tersebut, sebatas menjelek-jelekkan pihak yang bertanggung jawab, atau hanya memikirkan kebahagiaan dirinya sendiri. Pribadi pemuda hebat tentunya harus mampu berfikir untuk menjadi sosok yang menjadi bagian dari solusi atas masalah-masalah di sekitarnya.

Memberikan yang Terbaik dari Diri Kita

Memberikan kontribusi maksimal adalah kondisi ideal dari diri kita. Akan tetapi, lebih banyak dari kita yang belum bisa langsung memberikan manfaat kepada 1.000.000 orang secara langsung. Walau demikian, tidak berarti kita harus mengalah pada kondisi dan memutuskan untuk tidak memberikan apa-apa pada sekitar. Mari kita bercermin dan melihat apa saja kelebihan yang kita miliki dan mencoba menggunakan sebanyak mungkin kelebihan kita untuk kemanfaatan sekitar.

Akan sangat hebat jika dia mampu menjadi pemecah masalah besar seperti ruwetnya transportasi di Jakarta atau pembangunan sistem sosial di kawasan konflik Poso. Apabila belum mampu, kita bisa memulainya dengan hal-hal yang lebih kecil agar membiasakan diri untuk berkontribusi. Paling tidak kita mengupayakan untuk tidak menjadi bagian dari masalah itu. Untuk mengurangi polusi lingkungan, kita berusaha membuang sampah pada tempatnya, mengantongi bungkus permen jika belum bisa menemukan tempat sampah, memungut kotak teh botol yang ditinggalkan oleh kawan kita, dan sebagainya.

Pada tahapan yang lebih lanjut, kita bisa mencoba untuk memberikan kontribusi terbaik kita pada lingkungan tempat kita hidup sehari-hari (keluarga dan masyarakat sekitar). Kita mencoba membantu kawan-kawan kita yang kesulitan mengerjakan tugas kuliahnya, memotivasi saudara kita yang sedang putus asa karena mendapatkan nilai yang kurang memuaskan ketika ujian sekolah/kuliah, membantu orang tua memberikan sedikit uang saku untuk adik kita. Pun kita bisa menghadirkan senyum di wajah guru/dosen kita dengan memberikan karya terbaik kita dalam mengerjakan tugas sehingga beliau pun akan semakin semangat dalam mentransfer ilmu kepada kita dan kawan-kawan kita.

Berikutnya kita bisa mengembangkan kontribusi kita pada masyarakat dengan cakupan kegiatan yang lebih mendasar dan memberikan dampak pada populasi penduduk yang lebih banyak. Kawan-kawan yang aktif di organasi kemahasiswaan/masyarakat tentunya sudah sangat tidak asing dengan pemeberdayaan masyarakat di dusun-dusun tertinggal dengan berbagai program com-dev mereka; sahabat-sahabat rohis kita pun juga selalu rajin mengadakan program-program yang bisa meningkatkan kapasitas diri saudaranya, baik yang bersifat duniawi maupun untuk bekal di akhirat; atau seperti kawan-kawan wirausahawan kita yang memberikan lapangan pekerjaan pada masyarakat sekitar.

Jika kita sudah mempunyai bekal yang cukup, kontribusi pada bangsa kita menjadi langkah yang luar biasa sebagai pemuda. Kalau suka dengan Fisika, barangkali bisa mengharumkan nama bangsa dengan medali emas dalam IPhO (Int’l Physics Olympiad), membantu mengorganisisasikan lembaga tingkat nasional, atau mengkritisi kebijakan nasional yang dikeluarkan oleh para pengelola negara.

Mempersiapkan Diri

Untuk bisa memberikan kontribusi maksimal pada sekitar, seringkali niat yang tulus suci saja belum cukup. Harus dibekali dengan kemampuan yang mencukupi supaya niatan awal kita bisa tersampaikan. Seorang pemuda yang ingin memperbaiki diri, kemudian mencalonkan diri menjadi Bupati (atau bahkan Presiden) tetapi jika dia belum mempunyai bekal (kemampuan, jaringan, pengalaman, dll) tentunya setulus apa pun niatnya bisa jadi malah kontradiktif karena cara yang dipakai kurang tepat.

Mari bekali diri dengan hal-hal yang diperlukan untuk bisa memberikan kontribusi yang terbaik. Jika orang akan lebih mudah dinasehati oleh sahabatnya, mari kita menjadi sahabat bagi sebanyak mungkin orang dengan berkata lembut padanya, tidak mudah men-judge dia dengan kondisinya sekarang, dan berusaha lebih sering mendengarkan daripada bersikeras beradu kebenaran dengannya (*walau dalam beberapa hal ini perlu*). Jika untuk berkontribusi ke masyarakat kita perlu tahu bagaimana teknik komunikasi dengan warga, maka belajar budaya daerah itu bisa jadi sarana penguat kontribusi kita. Pun sama dengan niatan untuk mengharumkan nama bangsa di negeri luar, pemahaman yang luas akan budaya bangsa dan kemampuan bahasa asing menjadi sarat utama.

Kawan-kawan sekalian, mari kita berusaha menjadi penerang di tengah-tengah kurangnya cahaya di sekitar kita; menjadi bagian dari pembuat solusi atas masalah yang ada.

Advertisements