Sosok Sang Juara


juara Tak mudah untuk menjadi pribadi yang unggul. Kita semua paham bahwa dibutuhkan kerja keras dan semangat tidak mudah menyerah untuk mencapai hal-hal besar dalam hidup. Jalan sang juara memang berbeda, dan seringkali lebih melelahkan. Saat yang lain sedang bersantai ria, kita harus ikhlas untuk tetap mengerjakan banyak hal demi meraih cita. Kala lainnya hanya bisa mengutuk masalah, kita mesti siap untuk menjadi bagian dari penyelesainnya. Semasa kuliah di UGM, ada beberapa kisah kawan-kawan yang selalu menginspirasi saya.

Entah kenapa, sejak awal masuk UGM saya mengagumi sosok para ketua BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa). Akhirnya saya pun mendapat kesempatan untuk berada pada masa dimana kawan-kawan saya menjadi sebagian dari mereka (Ketua BEM). Mereka adalah mahasiswa/i pilihan yang sejak awal kuliah telah tampak karakter kepemimpinannya, sosok yang selalu berusaha untuk mengajak mahasiswa lainnya agar menjadi pribadi yang lebih berkontribusi pada lingkungan. Kepentingan pribadi bukan lagi menjadi prioritas yang utama bagi mereka. Masa depan bangsa dan sekitar menjadi penggerak setiap langkah mereka. Inilah sosok-sosok mahasiswa yang saya yakin bisa membawa perubahan pada bangsa ini, jika tetap berada pada trek yang tepat.

Gigih dan fokus dalam belajar, serta cerdas dalam mengatur waktu. Barangkali itulah sebagian kunci dari keberhasilan beberapa mahasiswa yang setiap kali periode wisuda di UGM dianugrahi predikat wisudawan/wati terbaik fakultas. Atau dengan kata lain  mahasiswa/i yang memiliki nilai terbaik di fakultasnya, a.k.a mahasiswa/i ber-IPK super. Dibutuhkan performa bagus dan konsistensi untuk tetap berprestasi bagus di setiap semester selama menempuh studi di kampus. Tidak hanya satu atau dua kali mengerjakan tugas secara serius, namun track record dan karakter pribadi yang selalu berusaha memberikan yang terbaik pada setiap hal yang dilakukan (salah satunya pendidikan di kampus) lah yang lebih terlihat dari pribadi-pribadi seperti ini.

Untuk mengukur kompetensi keilmuan mahasiswa/i, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI) seringkali mengadakan kompetisi mahasiswa/i. Salah satu kompetisi yang sangat prestisius adalah Olimpiade Nasional MIPA (ON-MIPA). Dengan seleksi berlapis-lapis dari fakultas hingga tingkat nasional, menjadi juara satu (medali emas) pada ON-MIPA (atau kompetisi serupa) tentulah hal yang sangat sulit. Dibutuhkan persiapan yang sangat matang, pemahaman mendalam mengenai bidang ilmu terkait, serta kegigihan untuk memberikan yang terbaik dalam setiap tahapan. Dan saya sangat bangga dengan kawan-kawan yang telah meraih prestasi-prestasi tersebut.

Hal lainnya yang barangkali perlu kita apresiasi adalah para Mahasiswa Nerprestasi di berbagai fakultas di kampus (misalnya UGM). Kawan-kawan ini memiliki performa yang sangat apik di bidang akademis, namun mereka juga punya softskills tinggi serta aktif dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan/kemasyarakatan. Mereka mampu mengelola waktunya dengan sangat rapi sehingga bisa tetap beraktivitas di luar kuliah serta masih menjaga performa akademisnya. Komposisi yang sangat berat bagi kebanyakan mahasiswa.

Aktivis Islam. Saya selalu sangat bangga dengan kawan-kawan saya yang ini. Di saat arus globalisasi dan westernisasi menyerbu kampus-kampus negeri ini, yang walau pastinya membawa nilai positif tetapi banyak pula dampak negatifnya, mereka dengan gigih tetap menjaga dan menyebarkan nilai-nilai keagamaan dengan penuh keikhlasan. Saat sebagian dari kami hanya fokus pada belajar dan mendapatkan nilai tinggi di kampus, mereka dengan penuh semangat menghidupkan mushola-mushola fakultas/masjid kampus dengan berbagai kegiatan pengembangan diri. Kala beberapa mahasiswa asyik dengan malam mingguan di klub-klub malam, mereka rela terjun ke berbagai pelosok daerah untuk mengajari adik-adik kecil belajar baca Al-Qur’an atau mengadakan bakti sosial. Merekalah sosok yang tetap menghargai prestasi akademis namun selalu berusaha melaksakan segala-Nya hanya demi Allah dan berusaha menjalankan hidupnya sesuai dengan ketentuan-Nya. Tanpa mengharap sesuatu pun dari manusia, tdak mengharap harta benda atau imbalan lainnya, tidak juga popularitas, apalagi sekedar ucapan terima kasih. Hanya ridho-Nya.

Fitrah atau barangkali kecendurungan dari kita yang sudah diberikan sedikit ‘icip-icip’ keberhasilan olah-Nya adalah perasaan untuk merasa hebat, agak sombong, atau barangkali memandang rendah orang lain. Jika sifat seperti ini menempel pada hati kita, maka harus segera diamputasi biar tidak semakin akut dan menjalar lebih luas. Oleh karena itulah saya, secara pribadi, sangat menghargai kawan-kawan di kampus yang mempunyai prestasi menonjol tetapi tetap rendah hati, tidak memamerkan prestasinya. Mereka tidak pernah merasa besar dengan segala prestasinya, selalu ada hal lain yang lebih besar untuk diraih, dan mereka bekerja keras untuk meraihnya. Bukan karena tidak bersyukur atau egois, tapi saya melihat mereka sebagai pribadi-pribadi yang meyakini bahwa mereka bisa melakukan hal yang lebih besar lagi, dan jika kesombongan sudah menghampiri hati, maka musnahlah sudah masa depan yang cerah.

Agar bisa menjadi pribadi yang mampu meraih prestasi tersebut, tentunya diperlukan usaha yang luar biasa. Untuk mencapai beberapa di antaranya tentunya usahanya pun akan lebih keras lagi. Tapi tentunya bukan hal yang mustahil. InsyaAllah dengan kerja keras yang dibarengi dengan doa yang penuh harap pada-Nya hal-hal tersebut sangatlah mungkin. Jika masih ada yang menganggap capaian tersebut hampir mustahil, akan saya perkenalkan sosok seorang kawan yang tidak hanya meraih beberapa di antara capaian tersebut, tapi SEMUA yang saya tuliskan di atas. Bahkan LEBIH dari itu.

Namanya Fajar. Fajar Sofyantoro lengkapnya. Alumni UGM yang sedang menunggu masa keberangkatan ke Jepang dengan beasiswa dari Panasonic setelah menyempurnakan studinya di Fakultas Biologi UGM dengan predikat sebagai wisudawan terbaik. Dia juga dinobatkan sebagai Mahasiswa Berprestasi (Mapres) Biologi UGM tahun 2011 dan tahun sebelumnya juga menjabat sebagai Ketua BEM Biologi UGM, padahal di semester sebelum pemilihan dia harus belajar di Nanyang Technological University (NTU) Singapura selama 1 semester. Dan masih banyak lagi torehan prestasinya.

Dia pun menyempurnakan sederet prestasi dan karakternya dengan banyak keahlian dan sifat yang makin membuat kita terinspirasi untuk meneladaninya. Tulisannya sudah seperti karya para novelis handal; silahkan cek di blog dan notes-nya yang rutin ia update. Badannya pun sangat manly, saking kekarnya kami sering memanggilnya ‘Kim Jong-Kook,’ penyanyi Korea berbadan kekar. Walau sarat dengan segudang prestasi, dia masih sangat peduli dengan sekitarnya. Bagi yang menjadi temannya di Facebook tentunya tahu alasan kenapa dia memajang foto beberapa adik kelasnya di fakultas sebagai photoprofilnya beberapa waktu yang lalu. Dengan segala kesibukannya, dia masih tetap rajin mampir ke rumahnya di Magelang untuk ber-birul walidain pada kedua orangtuanya, bukti bahwa dia adalah anak yang sangat hormat pada bapak-ibunya.

Itulah kawan salah satu sosok kawan yang selalu menjadi inspirasi dan motivasi bagi diri saya untuk terus mengembangkan potensi. Bukti nyata, bukan cuma karya fiksi atau dongeng masa kecil serta bukan pula superhero yang hanya ada di TV. Semoga kita bisa meneladaninya, untuk menjadi sosok yang penuh prestasi di berbagai bidang tetapi tetap memelihara nilai-nilai fundamental dalam hidup kita, untuk berprestasi bukan hanya demi piala tapi demi kontribusi pada sekitar. Inilah kisah singkat tentang Fajar, Sosok Sang Juara.

Advertisements