Purba Purnama, Purba Namanya, Purnama Prestasinya


Purba Purnama (tengah)

Jalan untuk mencapai keberhasilan tak akan pernah mudah. Pun orang-orang yang sudah berhasil pasti dibersamai dengan jalan terjal untuk meraih impiannya. Karakter untuk tetap tegar dan tidak menyerah saat menghadapi tantanganlah yang penting. Bukan sekedar seberapa sumberdaya (kecerdasan, kekayaan, jaringan, dll) yang dimiliki. Pada saat kita memutuskan untuk menyerah di depan tantangan kehidupan, saat itu pulalah kita dengan sengaja memutus rute menuju keberhasilan. Tak peduli seberapa pun rintangan hidup, dengan kegigihan, insyaAllah keberhasilan akan muncul. Pun sangat rasional jika orang yang lebik sukses akan mendapatkan tantangan yang lebih berat. Maka jika hidup terasa sangat susah, barangkali bukan keluhan yang patut terucap, tapi rasa syukur karena kita telah disiapkan oleh-Nya untuk menjadi orang besar di masa mendatang.

Purba Purnama. Alumni FMIPA UI yang pernah mendapatkan beasiswa PPSDMS ini baru saja memecahkan rekor yang luar biasa: lulusan tercepat program integrated master-doctoral di Korea Selatan. Dia menyelesaikannya hanya dalam tempo 3.5 tahun, padahal normalnya dibutuhkan waktu 5 tahun. Dengan kehidupan Korea yang keras dan penuh tekanan serta tuntutan besar, waktu 5 tahun seringkali kurang bagi banyak mahasiswa tapi Mas Purba bisa menyelesaikannya 1.5 tahun lebih cepat. Belum lagi ditambah catatan 2 paten Korea dan 1 paten Amerika Serikat (sampai 2 September 2012), serta banyak paper/makalah jurnal/konferensi yang pernah ia terbitkan. Sungguh sosok ilmuwan cerdas. Selama kuliah pun dia punya catatan yang luar biasa. Dia adalah lulusan terbaik di FMIPA Universitas Indonesia (UI).

The Climb is High, but the View is Nice

Hidup Mas Purba dipenuhi dengan segudang tantangan-tantangan berat, yang datang silih berganti dan bertumpuk-tumpuk. Tapi beliau tidak pernah menyerah pada kondisi sulit itu. Jika beliau menggunakan beratnya tantangan hidup, pastinya beliau berada dalam situasi yang sangat jauh berbeda dengan saat ini.

Sampe masa SMA beliau dan keluarga hidup dalam rumah ‘mewah’ tanpa listrik. ‘Mepet sawah’ karena dikelilingi oleh kebun tebu dan belum banyak tetangga yang hidup di sekitar rumahnya. Gaji Ayahandanya pun Rp 6.000.000,- (selama setahun). Saya yakin sangat tidak cukup untuk membiayainya kuliah di UI yang terkenal mahal dan belum lagi untuk mencukupi kebutuhan kehidupan keluarga agar dapur tetap mengepul. Ibu beliau membuka warung makan, suatu profesi yang beliau bilang laksana buah simalakama. Jika laku maka bersyukur karena bisa mendapatkan laba, tapi jika tidak laku akan meraih untung karena bisa menyantap makanan yang dijualnya.

Semasa semester dua, Ibunda beliau menderita penyakit kronis dan harus dioperasi. Pastinya dana tidak mudah didapatkan. Sebagai konsekuensinya, maka orang tua beliau dengan berat hati bilang untuk berhenti mendanai beliau. Muncul dua pilihan: putus kuliah atau menanggung semua biaya kuliah dan hidup di Jakarta dengan bahunya sendiri. Dengan penuh optimisme, pilihan untuk tetap berjuang diambil sehingga beliau harus bekerja sambil kuliah agar bisa bertahan hidup di ibu kota. Dengan latar belakang keluarga yang secara ekonomi belum bisa senyaman sebagian besar mahasiswa UI, tentunya hal itu menjadi tantangan tersendiri untuk bisa bertahan di UI. Apalagi ditambah harus bekerja paruh waktu setiap sore dan malam demi menyambung nafas dan bisa bertahan di bangku kuliah. Selain itu, beliau pun tetap aktif di organisasi kampus.

Mmmmm… bisa kita bayangkan sendiri kerasnya kehidupan yang sedang dialaminya. Tuntutan untuk tetap berprestasi di UI, tetap berkontribusi di organisasi, tetap bekerja paruh waktu untuk bertahan hidup, memperdalam keagamaan, dan tentunya—sebagai anak—tetap membantu keuangan orang tua. Melakukan salah satunya saja sudah sangat susah, apalagi semuanya dalam satu waktu yang bersamaan.

Foto bareng biar bisa ketularan suksesnya Mas Purba (kedua dari kanan)

InsyaAllah Selalu Ada Jalan

Tidak menyerah pada keadaan dan tak menggunakan kekurangan sebagai alibi untuk miskin karya. Barangkali itulah kunci yang membuat Mas Purba bisa terus berkarya dan mencapai prestasi luar biasa.  Beliau menggunakan waktu sore dan malamnya untuk berjuang keras di kerja paruh waktunya, sehingga praktis hanya ada pagi sampe siang menjelang sore untuk kuliah dan segala aktivitas lainnya. Karena ada alokasi tertentu untuk bolos kuliah, maka beliau pun dengan cerdas mensiasati waktunya agar bisa tetap aktif di organisasi, dengan beberapa kali meninggalkan jam kuliah demi menjalankan amanah di lembaga, tentunya dalam quota yang diizinkan. Waktu belajarnya pun beliau sesuaikan yang paling cocok dengan kondisinya: sepertiga malam terakhir saat hati tenang dan malaikat sedang turun untuk mengamini doa hamba-hambanya. Karena dana untuk makan sedikit, beliau menggunakannya sebagai sarana untuk beribadah. Akhirnya puasa Senin-Kamis (kadang Senin-Kamis-Sabtu ^_^) menjadi penambah pahala sekaligus penghemat dana. Sekali mendayung, 2-3 pulau terlampaui.

Bagi kita semua yang merasa hidup ini sangat susah, marilah berdiam diri sejenak dan melihat segala hal yang kita miliki dan menengok saudara-saudara kita di Etiopia atau di banyak rumah sakit jiwa di Jakarta. Barangkali hidup kita emang sangat susah, tapi itu bukan alasan untuk menyerah dan putus asa.  Mas Purba, dan banyak tokoh lainnya, telah memberikan teladan bahwa betapa pun kondisi kita kurang mendukung untuk keberhasilan, dengan kerja keras dan semangat pantang menyerah (tentunya diiringi dengan doa dan kesabaran pada-Nya) insyaAllah selalu ada jalan menuju keberhasilan.