Sang Maha Pemberi Nan Maha Bijaksana


Daegu Islamic Center

Daegu Islamic Center

Rencana-Nya sungguh sangat indah. Jika kita selalu berprasangka positif terhadap-Nya dan selalu menyikapi setiap apa yang Dia takdirkan kepada kita, insyaAllah hidup ini akan terasa sangat indah dan sarat dengan makna. Kita tidak akan terlalu gundah gulana ketika cobaan menimpa, pun kita juga tak sampai terlalu berlebihan bergembira ketika kebahagiaan sedang menghiasai hidup kita.Minta Perak Malah Diberi Emas

Untuk mempersiapkan sholat Jum’at, setelah mencari waktu yang terbaik, pagi tadi (2012/09/05) saya berazam untuk mengunjungi kembali Masjid Al-Amin, Daegu, yang kebetulan cukup dekat dengan kampus saya. Alhamdulillah ada beberapa kawan muslim dari Yaman, Pakistan, New Genea, dll sehingga saya upayakan untuk tahu lebih detail bagaimana cara kesana dan berapa lama waktu yang diperlukan, sehingga kami bisa ikut sholat Jum’at.

Kelas bahasa Korea kami akan selesai jam 12.50-an sedangkan Sholat Jum’at di Al-Amin sudah akan dimulai pukul 13.00, sehingga kami hanya punya waktu 10 menit untuk kesana. Jika sudah tahu tempatnya barangkali akan enak, namun tempo hari saya kesana karena nebeng bus rombongan dari Daejeon dan pulangnya pun diantar oleh kawan-kawan pengurus masjid.

Senin ada orientasi, selasa harus ngurus pembuatan akun Bank lalu cek kesehatan, Kamis harus mengurus pendaftaran Alien Registration Card, dan Jumat sudah hari Jumatan. Semuanya tentunya setelah kelas selesai pukul 13.00. Dengan mantab dan penuh semangat akhirnya saya berencana untuk mengunjungi Al-Amin hari Rabu. Karakter yang agak aneh, selalu berusaha memastikan persiapan beres sebelum pelaksanaan hari-H nanti. Saya ingin melakukan semacam test-drive atau gladi bersih perjalanan ke Al-Amin.

Alhamdulillah, kelas selesai pukul 12.55, lalu dengan penuh semangat saya menuju South Gate (남문) dari Keimyung University untuk naik bus ke Al-Amin. Setelah 3 menit menunggu lampu merah berganti warna menjadi hijau, tanda kami bisa menyeberang, langkah penuh niat (walau perut keroncongan..hehe) terayun dengan tegap.

Saat sudah sampe seberang, seperti biasa saya celingak-celinguk melihat kanan-kiri untuk menghafal lanskap kawasan sambil nengokin wajah orang yang nyeberang bareng saya, barangkali ada yang kenal. (hehe… Sok punya kenalan aja, padahal baru 1 minggu disini). Ada satu wajah yang agak menarik pandangan, wajah yang saya rindukan. Luar biasa, ternyata bisa ketemu orang seperti ini di barisan mahasiswa KMU yang baru keluar kelas. Ehm…ehm…

Wajahnya terhias dengan jenggot yang terpelihara. Masih muda dan penuh semangat. Seperti biasanya yang suka SKSD (dan SNSD juga sih ^_^), saya pun menghampirinya dan langsung menembak dengan perkataan, “Assalamu’alaikum.” Alhamdulillah, ketemu kawan muslim di perantauan ini, kawan dari Pakistan yang berwirausaha di Korea Selatan selama 2 tahun terakhir. Sambil jalan kami pun ngobrol-ngobrol ringan. Subhanallah, dia juga mau ke Masjid untuk sholat Dzuhur berjamaah. Karena sudah 2 tahun di Korea, dia tentunya lebih tahu tentang lanskap Korea. Tak disangka dia punya mobil, akhirnya saya pun dengan wajah cerah masuk ke mobilnya. (Lumayan dapet tumpangan gratis.) Sambil diskusi tentang Islam di Korea, pemuda yang sudah berwirausaha sejak usia 1o tahun ini mengajak saya untuk berkunjung ke Masjid/Islamic Center Daegu. Benar-benar masjid, bukan seperti musholla a la Korea lainnya yang merupakan ‘ruko’ yang dipergunakan sebagai tempat sholat.

Tampak Dalam dari Masjid Al-Amin

Tampak Dalam dari Masjid Al-Amin

Alhamdulillah bisa sholat Dzuhur berjamaah dengan kawan-kawan Muslim lainnya di masjid. Itung-itung sudah menjadi ‘tempat sholat’ ketiga yang saya kunjungi selamat 1 minggu pertama di Korea ini, setelah musholla KAIST akhir pekan lalu, dilanjut dengan masjid Al-Amin di malam harinya.

Setelah sholat dia juga mengajak saya untuk mampir ke ‘rumah’-nya. Sebagai mahasiswa yang sedang berusaha ngirit, saya pun mengiyakan saja, siapa tahu dapet makan siang gratis. (hehe…) Tempat yang dia sebut sebagai rumah itu ternyata pabrik tekstil satu kompleks yang sudah dia jalankan selama 2 tahun terakhir di Korea Selatan, untuk dia ekspor ke Timur Tengah. Hmmmm.. mampir ke rumah bos nih jadinya.

Makan siang memang menjadi agenda utama kami. Alhamdulillah, setelah satu minggu akhirnya bisa makan daging lagi. Tanpa banyak mikirin tentang rasa malu, saya pun dengan lahap menyobeki roti canai dan mencocolkannya pada kuah daging lalu memasukkan pada mulut yang sudah penuh dengan lidah penuh rindu dengan rasa daging.

Dia Maha Tahu

Alhamdulillah. Niat awal hendak menengok masjid kecil yang dikelola kawan-kawan Indonesia di Korea (masjid Al-Amin), namun akhirnya bisa dipertemukan dengan saudara (plus saudagar) baru dari Pakistan yang membawa saya melihat Masjid Daegu. Bisa sholat di Masjid merupakan barang mewah bagi Muslim di sini, selain tidak banyak jumlahnya di Korea, jarang yang bentuknya benar-benar Masjid, banyak yang berwujud ‘ruko’ atau ‘toko’ yang disewa dan dialihfungsikan sebagai Masjid.

Tentunya banyak hal yang Dia berikan pada kami disini, walau pun hidup terasa agak susah di awal. Pilihan untuk selalu ada roti, telur, sayur, dan susu di setiap makan malam dan sarapan menjadi obat kami yang tidak bisa makan daging disini. Ada teman-teman Muslim lain dari manca negara menjadi penguat iman dan saling memberikan nasihat dan teladan untuk menguatkan iman. Belajar di sekolah Kristen, pengaruh liberalisasi total lebih teredam di kampus ini. Banyaknya orang asing pun menjadi salah satu penambah semangat untuk lebih percaya diri dalam bersikap dan mengambil keputusan dalam hidup.

Advertisements