Belajar Mati


Hari ini, Senin 13 Agustus 2012, insyaAllah tepat 2 minggu sebelum 27 Agustus 2012, saat saya harus kembali meninggalkan tanah kelahiran untuk menimba ilmu di Korea Selatan, mengikuti program S2 di Seoul National University (dengan didahului belajar bahasa Korea selama 1 tahun di Keimyung University). Ditambah lagi kemarin baru mengantarkan teman yang berangkat S2 ke Thailand awal bulan kemarin.

Saat mengantar Canggih ke Thailand.

Banyak hal yang terpikir di benak saya sejak dua bulan terakhir, salah satu yang paling kuat adalah tentang kematian. Saat saya naik motor, atau duduk di masjid mengikuti kajian buka puasa, atau bahkan saat merasakan masa-masa terindah di dunia (baca: BAB, hehe), sering muncul pikiran tentang persamaan antara kematian dan meninggalkan tanah air untuk beberapa waktu. Pikiran ini semakin kuat saat saya membayangkan kembali masa-masa menunggu keberangkatan ke AS waktu SMA serta saat pulang dari sana, mirip juga dengan masa kunjungan ke Korea 3 tahun silam.

Dengan mengetahui bahwa ‘hidup‘ kita tidak akan lama lagi di suatu tempat, maka kita akan berusaha memanfaatkannya dengan sebaik mungkin. Memilih untuk memprioritaskan hal-hal yang penting dan merelakan hal-hal yang kurang penting; berusaha untuk mengerjakan berbagai hal yang selama ini kita rencanakan tetapi belum terlaksana; serta mencoba untuk melaksanakan hal-hal kecil dengan tujuan-tujuan besar.

Dengan dasar itu, saya memilih menggunakan masa tunggu dari Mei-Agustus untuk tinggal di Jogja, menghabiskan masa 3 bulan dengan berbagai pihak yang sangat penting dan berharga bagi diri ini, pihak-pihak yang telah memberikan banyak pelajaran dalam hidup dan yang telah membantu saya untuk meningkatkan kapasitas diri.

Berusaha urun rembug memperbaiki sistem pemilihan Mapres di UGM, ikut berkontribusi semampu saya dalam peningkatan kualitas JTETI, bersilaturahim dengan kawan-kawan PPSDMS dalam berbagai kegiatan, merencanakan dan mempersiapkan finansial untuk adik supaya bisa meneruskan kuliah, menyambung kembali kontak dengan kawan-kawan lama, tertawa dan kerja keras bersama dengan kawan-kawan semasa kuliah, mengunjungi masjid-masjid dan kampus-kampus di berbagai tempat, dan tentunya dengan memberikan alokasi waktu dan dana yang lebih untuk peningkatan kapasitas keIslaman sebagai persiapan hidup di tanah rantau nanti. Semuanya terasa manis dan indah, mendedikasikan waktu, tenaga, dan pikiran kita untuk pihak-pihak yang memang layak dan berhak mendapatkannya.

Sangat beruntung saya mengetahui kapan saya akan berangkat sehingga saya tahu berapa waktu yang saya punya dan bisa merencanakan kegiatan apa saja untuk memaksimalkannya. Sayangnya privilege semacam itu tidak kita miliki tentang kematian, kita tidak akan pernah tahu kapan maut akan menghampiri, sehingga pastinya kita tidak bisa mempersiapkan diri sesuai dengan harapan kita. Dia bisa datang kapan saja, saat kita masih muda, atau kala kita berusia ratusan tahun, atau mungkin ketika kita sedang terlelap dalam mimpi, serta tidak mustahil juga saat kita berada dalam kendaraan. Kita tidak pernah tahu jarak antara kita dengan kematian itu.

Oleh karenanya, sangatlah bijak jika kita selalu mempersiapkan diri untuk menyambutnya. Sehingga kapan pun ia datang, kita siap sedia dan tidak menyesal. Mari kita pilih kegiatan-kegiatan yang penting, mencoba meninggalkan yang kurang penting (apa lagi yang tidak penting), kita maknai lagi aktivitas-aktivitas kita secara lebih mendalam.

Peningkatan pemaknaan kegiatan barangkali bisa jadi salah satu sarana untuk menaikkan kualitas hidup kita; apa pun kegiatan kita, mari kita niatkan untuk suatu tujuan yang sangat muliah: untuk mengabdikan diri kita dalam jalan-Nya. Contoh yang barangkali akan kita semua hadapi sebagai pemuda (serta orang biasa secara umum) adalah dalam memilih media untuk berkarya (entah dengan bekerja, berwirausaha, belajar, dan lainnya). Akan sangat berbeda ketika kita memilih tempat berkarya (misalnya bekerja) yang hanya didasari oleh nafsu duniawi, seperti uang dan gengsi, dengan jika dia dilandasi oleh niatan karena Yang Maha Adil.

Kita perlu memikirkan apakah cara kita dalam mendapatkan pekerjaan itu telah berada pada jalan yang benar (dengan tidak memalsukan CV atau memanipulasi transkrip, dsb), serta apa kah pilihan tempat kita bekerja akan menjadi tempat yang diridhoi oleh-Nya: tempat yang tidak basah oleh praktik korupsi dan pengumbaran hawa nafsu serta tidak menguras kekayaan negeri untuk kepentingan segelintir golongan, entah asing atau pun dalam negeri. Tentunya banyak pertimbangan lain.. Entahlah kawan, terlalu banyak pertimbangan jika saya menuliskan semuanya. Hati kita tentunya akan lebih tahu.

Pun saat bekerja, jika kita bisa memaknai bahwa aktivitas kita untuk menyelesaikan amanah pekerjaan adalah untuk berusaha mengabdi pada-Nya sebagai hamba yang taat menjalankan amanah serta untuk menunjukkan bahwa seorang muslim selalu melaksanakan amanahnya sebaik mungkin, bukan cuma sekedar untuk menghindari amarah dari bos.

Dua minggu akan segera berlalu, semoga saya bisa mengisi waktu ini dengan persiapan yang terbaik. Dan yang lebih penting lagi, tentunya semoga kita semua bisa mengisi hidup kita dengan persiapan terbaik untuk menyambut kematian.

Advertisements