Perjalanan Menggapai Mimpi (bagian 2)


Tulisan ini merupakan kompilasi dari empat cerita pendek tentang kisah perjalanan saya dalam mencari beasiswa S2.
Bagian pertama | Bagian kedua | Bagian ketiga | Bagian keempat

3. Menyebar Jaring, Memilah yang Didapat dan Merelakan yang Lepas

Laksana nelayan yang ingin medapatkan ikan terbaik untuk ia bawa pulang dan persembahkan pada keluarga tercinta, saya pun menyebarkan jaring mengirim aplikasi ke banyak perguruan tinggi dan lembaga pemberi beasiswa, untuk kemudian memilih kampus terbaik yang menerima saya.

Target favorit saya adalah Eropa, benua biru yang terkenal dengan keindahannya, karena kaki ini belum pernah menginjakkan kaki disana, kecuali hanya untuk transit satu malam. Maka Erasmus Mundus pun menjadi sasaran utama saya. Aplikasi yang tersusun rapi, motivation letter yang saya edit berpuluh-puluh kali, rekomendasi Pak Rektor dan Dekan serta professor saya di Korea dulu, modal IPK 3.92 dan TOEFL 607. Optimisme pun mekar bersemi semerbak di dalam hati.

Tawaran dari negeri seberang, Universiti Teknologi Petronas (UTP) pun masuk dalam agenda, kampus teknologi baru namun sangat pesat perkembangannya terutama dukungan dana untuk riset. Kebetulan juga ada campus visit dan mereka mengadakan seleksi di UGM. Saya pun iseng-iseng ikut seleksi, ada beberapa dosen yang dulunya S3 di kampus ini soalnya.

Muncul juga peluang untuk langsung S3 (tanpa S2 dahulu) di salah satu kampus teknologi terbaik di Asia, Nanyang Technological University (NTU) yang mengadakan campus visit dan on-site selection di UGM. Berbekal dari pengalaman pernah mengikuti seleksi serupa di JTMI UGM, maka satu bulan saya siap-siap, mulai dari belajar Integral dan Turunan dengan segala derivasinya hingga melahap buku GRE dan TOEFL. Mudah-mudahan bisa menjadi jalan hidup saya. Lumayan hemat usia karena saya tidak harus S2 dulu. Itung-itung balas dendam karena SMA saya yang nunggak jadi 4 tahun dan kuliah yang lebih lama dari 4 tahun.

Serta banyak lagi kampus-kampus yang saya coba daftari dan masukkan ke dalam target list. Mulai dari iseng-iseng daftar ke aplikasi online-nya Cambridge University yang ternyata akun saya dihapus setelah 2 minggu tidak saya update, Toyohashi Univ di Jepang, Seoul National University di Korea Selatan, Lehigh University di Amerika Serikat, dan banyak lagi kampus-kampus lain. Sampe kadang merasa capek dengan bolak-balik ke fakultas minta rekomendasi, jenuh harus berulang-ulang membuat motivation letter. Tapi insyaAllah semuanya akan indah, itulah keyakinan saya dalam hati.

Pengumuman pun muncul satu persatu. UTP Malaysia muncul pertama, scumbag Letter of Acceptance yang sempat membuat galau. Setelah berkoordinasi dengan beberapa dosen di kampus, akhirnya saya harus mencari jodoh lain. Setelah melepas UTP, saya seperti kena karma, Erasmus Mundus menyatakan saya tidak qualified walau saya sudah sangat optimis. Haha.. sakit hati tingkat dewa. Sempat agak menyesal melepas kesempatan di UTP. Sambil menunggu pengumuman lain, saya bahkan sempat ikut tes kerja suatu perusahaan, jaga-jaga kalau tidak bisa berangkat S2 tahun ini.

4. Tour de Jogja: Penemuan Bintang Penuh Kemerlap di Langit Bumi Yogyakarta

Bulan Maret menjadi salah satu bulan yang paling penuh makna dan inspirasi bagi saya. Dengan undangan dari kawan-kawan di Hoshizora Foundation, saya mendapatkan kesempatan untuk berbagi pengalaman dan motivasi dengan adik-adik bintang (sebutan bagi penerima beasiswa di hoshiZora) dari seluruh pelosok Jogja.

Bersama pejuang-pejuang HoshiZora

Selama satu bulan penuh kami mengadakan tur keliling ke sekolah-sekolah di Jogja. Diawali dari SMA N 1 Jogja, lalu SMA N 1 Bantul, SMA N 1 Wonosari dan ditutup dengan SMA N 1 Wates. Semuanya dengan tujuan untuk menyemaikan kembali impian-impian adik-adik SD-SMA yang terancam sirna karena kekurangberuntungan mereka dari segi ekonomi. Melihat senyum-senyum penuh semangat juang di wajah mereka serta kerja keras kawan-kawan HoshiZora yang sekarang sudah memberikan beasiswa kepada lebih dari 500 siswa di Jogja membuat diri ini semakin mensyukuri segala pemberiannya dan makin termotivasi untuk bekerja lebih demi memberikan kemanfaatan yang sebesar-besarnya bagi sekitar.

5. Perkenalan dengan Salah Satu Putra Terbaik Bangsa: Nelson Tansu

Barangkali inilah salah satu kejutan dahsyat yang saya temui dalam perjalanan mencari S2. Suatu sore saya di-SMS kepala Kantor Urusan Internasional (KUI) UGM tentang peluang untuk bisa langsung S3 di Amerika Serikat, tanpa harus S2, kebetulan ada tawaran langsung dari profesor disana. Beliau pun mengajak saya untuk menghadap Pak Rektor untuk konfirmasi. Hati pun berdegup kencang tidak karuan karena adrenalin yang sedang sibuk beraktivitas. Terbayang di pikiran bisa kembali berfoto ria di kawasan The Mall di Washington DC atau menikmati Tachos di restoran Meksiko di Baltimore.

Namun yang paling mengasyikkan adalah saat wawancara via Skype dan berkorespondensi via email dengan calon professor saya di sana. Pemuda Indonesia yang menjadi profesor termuda di Amerika Serikat pada usia 25 tahun, salah seorang tokoh paling berkontribusi untuk Indonesia, peneliti dengan CV lebih dari 40 halaman: Nelson Tansu. Walau dikarunia kejeniusan luar biasa dan banyak prestasi, beliau tetap sederhana dan selalu menghargai orang lain. Rendah hati dan kerja keras merupakan pesan utama yang beliau sampaikan setiap kali kami berinteraksi. Tak pernah terbayangkan diri ini untuk bisa melihat email yang terpenuhi inbox dari beliau.

Advertisements