Faelasufa, Mahasiswa Lokal Prestasi Internasional


Faelasufa

“Give me a fish, and I’ll eat for a day; Teach me to fish, and I’ll eat for a lifetime.”

Kalimat singkat tapi penuh makna tersebut dibawakan dengan penuh semangat oleh Faelasufa saat mempresentasikan karya tulisnya di PPPPTK Jl. Kaliurang pada 6 Mei 2010. Dengan semangat yang menggebu-gebu Mahasiswi angkatan 2009 ini memukau dewan juri pada seleksi Mahasiswa Berprestasi UGM 2012. Dengan kombinasi banyaknya kegiatan ekstrakurikuler yang dia ikuti, IPK cum laude, kemampuan berbahasa Inggris yang baik dan karya tulis yang penuh inovasi, Faelasufa akhirnya menjadi salah satu mahasiswa yang masuk dalam 6 besar Grand Finalis Mahasiswa Berprestasi UGM, setelah berkompetisi di Fakultas ISIPOL dan dengan 31 mahasiswa dari 18 Fakultas di UGM.

Sebagai kelanjutan dari seri khusus artikel mengenai mahasiswa-mahasiswi luar biasa di UGM yang lolos 6 besar Mapres UGM 2012, kali ini kita akan mengintip lebih dalam mengenai sosok Faelasufa, mahasiswi jurusan Ilmu Hubungan Internasional UGM. Kita akan coba membedah profilnya dan kegiatan yang ia lakukan selama hampir 3 tahun menimba ilmu dan berkarya di Bulaksumur.

Mahasiswi murah senyum dari Kudus ini memiliki kegiatan ekstrakurikuler yang sangat beragam dan sangat ekstensif, bahkan termasuk yang paling menonjol di antara 6 besar Mapres UGM, walaupun dia masih semester 6. Tidak hanya di tingkat UGM atau di nasional, dia pun pernah berpartisipasi kegiatan internasional.

Boleh dibilang, Faelasufa yang sering dipanggil Fela ini percaya pada sebuah peribahasa, selalu akan ada kegagalan dalam proses mencapai keberhasilan. Fall seven times, rise eight times. Ketika masih tahun pertamanya di jurusan Hubungan Internasional, dia sempat gagal untuk mengikuti ajang Model United Nations (MUN) pertamanya meski sudah mempersiapkan berbagai macam hal. Tapi dia tidak menyerah, dan satu semester setelahnya berhasil menjadi delegasi Universitas Gadjah Mada dalam salah satu MUN paling prestis di dunia, Harvard World Model United Nations pada bulan Maret 2011. Ia juga telah terseleksi untuk menjadi peserta dalam Greifswald International Festival 2012 di Greifswald University, Jerman yang diselenggarakan di negeri produsen mobil BMW tersebut. Selain itu dia juga terpilih sebagai penerima full scholarship untuk belajar 1 semester dalam program pertukaran pelajar di Fukuoka Women’s University mulai awal Oktober tahun ini.

Faelasufa bersama rekan-rekannya di YLI (Young Leaders Indonesia)

Bagi Fela, sudah tidak zamannya untuk memilih antara kehidupan akademis atau non-akademis. Hiduplah dengan balance, meskipun itu berarti harus siap berdamai dengan berbagai macam resiko. Dua puluh empat jam itu cukup panjang untuk memenuhi hasrat di bidang akademis dan non-akadmis, apabila kita memiliki strategi yang tepat. Oleh karena itu, untuk semakin mengembangkan dirinya, Fela pun sering aktif di banyak organisasi kemahasiswaan, baik intra kampus maupun yang di luar kampus. Dia ialah satu dari 5 director di Forum for Indonesia yang sekarang dipimpin oleh M. Ghufron Mustaqim.

Mahasiswi alumni SMP N 2 Kudus dan SMA N 1 Kudus ini juga menjadi bagian dari World Assembly of Youth, sebuah organisasi internasional yang dikomandoi Ediola Pashollari. Walau masih muda, Fela juga telah dipercaya untuk mengemban peran penting dalam berbagai organisasi. Penggemar menulis ini didaulat sebagai koordinator panitia Parlemen Muda divisi Yogyakarta dan ketua Jogja Berpijar.

Fela yang novelnya pernah diterbitkan oleh Gramedia ini juga aktif dalam berbagai kepanitian kegiatan. Dia adalah salah satu Program Initiator of Southeast Asian International Relation Students Association dalam International Affairs Week, bekerja sama dengan rekannya dari Universitas Parahyangan. Sebagai bagian penting dari Perlemen Muda dan Forum for Indonesia, Fela diberikan amanah sebagai project officer pada Workshop Perlemen Muda: dari Jogja untuk Indonesia serta dalam Forum For Indonesia’s Camp. Beberapa kepanitian lain yang pernah ia ikuti antara lain ICAYL (International Conference of ASEAN Young Leaders), International Day of Peace 2010, Workshop Indonesia Needs Action, serta Kulo Nuwun Party 2010.

Dengan segala aktivitasnya yang padat, Fela juga mempunyai prestasi akademis yang luar biasa. Mahasiswi yang diam-diam gemar mengobservasi kehidupan ini dapat mempertahankan mempunyai IPK cum laude sampai dengan semester keenamnya di UGM. Pada tahun 2011 dia juga menerima hibah riset FISIPOL UGM untuk melakukan penelitian bersama rekan-rekannya di jurusan. Sekarang, dia sedang dalam proyek riset Tandem on Globalization bersama dengan tim dari UGM dan Freidburg University. Bersama seorang rekannya, Ananta Aldi Arifianto, mahasiswi anggota KOMAHI (Korps Mahasiswa Hubungan Internasional) ini juga menerima penghargaan sebagai pemakalah nasional terbaik dalam Pertemuan Nasional Mahasiswa Hubungan Internasional (HI) tahun 2010, dengan makalahnya yang berjudul Efektivitas G-20 bagi Indonesia di Universitas Nasional, Jakarta.

“Be the change that you want to see in the world,” salah satu quote dari Mahatma Gandhi, menjadi inspirasi Fela dalam banyak aktivitasnya. Dengan semangat ingin memberikan sedikit kontribusi bagi masyarakat, bersama rekan-rekannya di Indonesian Youth Volunteer, dia terlibat aktif dalam membantu warga Dusun Kinahrejo-Shelter Jenggala paska letusan Merapi. Dia juga terlibat dalam beberapa kegiatan volunteering lainnya. Saat ini pun Fela aktif menjadi tutor (semacam pendamping dosen namun dari kalangan mahasiswa) di jurusan HI UGM, dalam rangka transfer ilmunya pada adik-adik angkatan di kampus. Dia sangat menggemari kalimat, share to as much people as possible.

Fela (paling kanan) dengan rekan setimnya dalam Danone Trust

Mahasiswi yang sempat internship satu bulan di Kementrian Luar Negeri Indonesia ini juga aktif mengikuti berbagai pelatihan pengembangan diri. Fela merupakan salah satu peserta yang lolos seleksi Young Leaders for Indonesia Wave 2012 oleh McKinsey Company. Dalam program yang berlangsung selama enam bulan tersebut, Fela bertemu dengan 59 anak muda terpilih dari seluruh Indonesia, dan mengaku mendapatkan banyak sekali inspirasi dari mereka semua. Dia juga menjadi peserta dalam Training Viral Peace and Generation Change yang diadakan oleh Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta. Di tahun yang sama, Fela bersama timnya menembus babak 5 besar kompetisi Business Plan berskala nasional, Danone Trust. Fela juga pernah mengikuti Indonesian Young Changemakers Summit dan StudentsxCEOs Summit di Bandung, serta Future Leaders Summit di Semarang.

Sesuai dengan doa kedua orang tuanya supaya Fela menjadi putri yang arif bijaksana dan berpengetahuan luas, yang terwujud dari asal namanya, Philosophy, dia pun kini terus tumbuh menjadi generasi muda yang terus mengembangkan diri agar menjadi pribadi yang lebih berkontribusi pada bangsa ini. Mari kita teladani bersama kisah-kisah hidup Faelasufa, serta kita dukung dia terus agar semangatnya untuk tidak hanya menjadi wanita biasa serta untuk terus bekerja keras menggapai mimpi-mimpinya bisa terwujud.

Dia mengaku bahwa dia adalah seorang manusia yang beruntung. Dia beruntung mengenali dirinya sejak awal mula, mengetahui passionnya, memiliki orang-orang yang menjadi ‘mentornya’, memiliki keluarga serta teman-teman dekat yang dia bilang berpengaruh besar dalam hidupnya, dan beruntung karena selalu berani untuk menjadi seorang peraih mimpi: a dream-catcher. Kata Fela, semua berawal dari mimpi. Di tahun pertamanya kuliah, dia hanyalah seorang mahasiswa biasa yang berasal dari daerah. Tapi dia punya mimpi. Shoot for the moon, so if you fail at least you are already flying above the skies.

Kisah Mahasiswa Berprestasi (Mapres) UGM Lainnya:

Advertisements