Manfaat Mengikuti PPSDMS (Nurul Fikri)


PPSDMS Nurul Fikri

Masa 2 tahun di asrama PPSDMS merupakan salah satu fase terindah dalam perjalanan hidup saya sebagai mahasiswa. Ditempa untuk menjadi pribadi yang unggul, berupaya untuk terus berkarya pada bidang masing-masing, dan saling berlomba untuk mencapai yang terbaik.

30 mahasiswa pilihan dari berbagai fakultas di UGM hidup bersama di asrama oranye di gang Nakula No.5, mulai dari ketua BEM, pimpinan SKI fakultas, mahasiswa ber-IPK super, wirausahawan handal, aktivi media sampai jagoan kompetisi yang hampir dapat piala setiap bulan. Semuanya dipersiapkan untuk menjadi pemimpin masa depan negeri ini. Saya pun sangat takjub dengan berbagai prestasi penduhulu saya di PPSDMS NF.

Banyak alumni PPSDMS yang telah menjadi idola, bukan hanya di level fakultas karena terpilih sebagai ketua BEM, namun banyak yang sudah menjadi tokoh nasional karena prestasinya yang luar biasa. Hampir semua aktivis mahasiswa pasti kenal Agung Baskoro, sang Juara The Next Leaders oleh Metro TV, atau Goris Mustaqim yang sering menghiasi layar TV karena keberhasilannya membangun Garut dengan socio-preneurship, atau Shofwan Albanna sang mahasiswa berprestasi nasional 2005 dan Juara 1 The 39th St. Gallen Symposium di Swiss. Sungguh suatu anugrah bisa menjadi bagian dari orang-orang hebat seperti mereka.

Setelah hampir 2 tahun menjadi alumni PPSDMS, terbersit untuk menuliskan kenangan-kenangan manis-asam-asin ala nano-nano semasa di PPSDMS. Ada beberapa hal yang paling saya syukuri pada saat menjadi peserta PPDMS.

  1. Jejaring mahasiswa

30 mahasiswa di PPSDMS Regional 3 Yogyakarta (dan total 155 peserta di 5 regional) adalah mahasiswa-mahasiswa pilihan yang rata-rata mempunyai posisi strategis di kampus masing-masing. Oleh karena itu, potensi ini sangat strategis untuk berbagi informasi, membangun kerjasama antar lembaga, dan dalam mewacanakan berbagai hal; atau paling tidak kita mempunyai tempat untuk singgah jika bepergian ke 5 kota tersebut (nginep gratis ^_^).

Teman-teman di asrama seringkali saling membantu untuk menguatkan. Peserta yang menjadi petinggi di BEM fakultas, terkadang mengundang peserta lain yang aktif di media untuk mengisi kegiatan di fakultasnya. Peserta yang aktif di BEM KM/Jamaah Sholahuddin yang sering mendapat informasi pertama seputar berita kampus bisa menyebarkan informasi tersebut di asrama, sehingga kita menjadi kelompok awal yang tahu berita tersebut. Pertukaran informasi itu pun seringkali melintas antar kampus, dari ITB ke UNAIR, atau dari ITS ke IPB. Peserta dari ITB yang aktif berwirausaha bisa bekerja sama dengan peserta dari UI untuk mengembangkan usaha. Lingkungan yang sangat potensial untuk memperluas jejaring, dalam bidang apa pun.

  1. Lingkungan yang sangat kondusif untuk berkarya

Keunggulan kedua adalah lingkungan yang ‘memaksa’ kita untuk selalu berkarya. Dengan kawan-kawan lain yang selalu berprestasi pada bidang mereka masing-masing, secara otomatis kita pun akan terpancing untuk melakukan hal yang lebih baik, tentunya pada bidang kita. Dulu saya sangat iri dengan Arya Budi (SP 07) dan Wisnu Prasetya U (SP 07) yang hampir setiap bulan juara lomba atau tulisan mereka di muat di media massa, karena saya tidak pandai menulis, akhirnya saya berusaha untuk berkarya pada bidang saya: tambah semangat untuk pengabdian masyarakat, mencoba ikut program pertukaran pelajar, dan merintis usaha kecil-kecilan.

Sungguh lingkungan yang luar biasa. Kami masih sering guyon, tapi guyon yang terdidik dan sering memancing untuk terus berkarya dan saling memotivasi untuk mengembangkan diri. Saya sering berguru pada Mas Aidil Adha (KU 06) tentang wirausaha, diskusi dengan Mas Adhe Nuansa Wibisono (SP 06) tentang gerakan mahasiswa, atau bahkan belajar desain bareng Chalis Setyadi (PA07). Tokoh seperti Mas Wildan Mahendra (SP 06) dan Teguh Afandi (TK 07) mengajarkan saya tentang cara membangun persahabatan, sedangkan Mas Reza Surya Dharma (KU 06) dan Mas D Miftahul Anwar (TK 06) banyak mengajari saya tentang kepemimpinan dan amanah. Luar biasa!!!

  1. Pengembangan potensi sesuai kecenderungan dan keminatan

Walau kami dituntut untuk mengembangkan diri menjadi pemimpin masa depan negeri ini, tetapi kami diberikan keleluasaan untuk menentukan jalur kami masing-masing. Tidak ada kewajiban harus gabung ke organisasi keagamaan tertentu, gerakan tertentu, atau harus aktif di bidang tertentu di kampus. Saya yang lebih cenderung mengembangkan diri pada dunia akademis tidak dituntut untuk harus jago berwirausaha;kawan-kawan yang aktif di organisasi kiri pun tidak harus membanting haluan ke kanan (hehe..). Asalkan sesusai ajaran Islam dan tidak melanggar aturan negeri ini, kami diberikan kebebasan untuk beraktivitas dan mengembangkan diri, tetapi harus mampu menjadi orang yang maksimal pada bidang itu. Jika aktif di riset, kita tidak dituntut untuk  ikut demo, tapi kita tetap dituntut untuk bisa menghasilkan riset unggulan, paper internasional, atau bahkan paten baru.

  1. Program pembinaan yang sangat komprehensif

Program-program yang disediakan PPSDMS sungguh komprehensif, mempersiapkan pemimpin yang berwawasan luas, berjiwa Islam moderat, berfisik tangguh, dan kompeten pada bidang masing-masing. Oleh karena itulah tidak perlu heran jika kami harus mengikuti latihan Tae Kwon Do setiap akhir pekan, harus siap menampilkan seni/budaya nasional/daerah saat evaluasi akhir semester, siap untuk mengikuti kajian keislaman dan menghafal Al-Qur’an, berdiskusi dengan tokoh-tokoh nasional, pelatihan kepemimpinan dan penulisan, bahkan juga pengabdian kepada masyarakat sekitar. InsyaAllah dengan niat ikhlas dan semangat belajar yang tinggi, kita akan menjadi pribadi unggul setelah melalui fase 2 tahun yang luar biasa untuk melekatkan 10 aspek kepemimpinan dan 20 kriteria keberhasilan ke dalam diri.

  1. Islam Moderat dan Komprehensif

Sebagai muslim yang diharapkan mampu menjadi bagian penting dari upaya untuk menjadikan Indonesia sebagai negeri yang lebih baik dan bermartabat, kami tidak hanya diajari untuk menjalankan ritual keagamaan Islam secara baik dan benar sesuai syariat, tetapi kami juga harus mampu memahami Islam sebagai sistem kehidupan yang menyeluruh untuk semua aspek kehidupan kita. Sebagai calon pemimpin masa depan, para peserta juga dilatih untuk mampu mencari tiitik temu dan membangun kebersamaan antar berbagai golongan dan kelompok masyarakat, sehingga kami tidak hanya berkembang sendiri, tetapi juga mampu mengajak yang lain untuk berpartisipasi dalam upaya perbaikan negeri ini.

2 tahun yang luar biasa saat di asrama! Saya sangat mensyukuri waktu-waktu tersebut, dan saya sangat berharap para mahasiswa/i terbaik dari kampus-kampus pilihan di berbagai penjuru negeri ini bisa mendapatkan pengalaman serupa.

profil PPSDMS: lihat di sini.

Advertisements