Filosofi Huruf T


Filosofi Huruf T

Filosofi Huruf T

Dalam konteks kehidupan modern, kita dituntut untuk memiliki kompetensi yang sangat tinggi pada bidang tertentu, sehingga mempunyai nilai tawar tinggi dalam persaingan. Oleh karena itulah kita dituntut untuk memiliki spesialisasi pada bidang tertentu, yang membuat kita berbeda dibandingkan dengan yang lainnya. Dengan spesialisasi itulah banyak orang-orang barat (Eropa dan Amerika) yang sukses berkarir pada bidang mereka.

Dalam konteks Indonesia, kita harus mempelajari banyak hal dalam masa tertentu. Akhirnya (kebanyakan dari) kita menjadi orang-orang yang tahu pada banyak bidang tetapi tidak mempunyai spesialisasi tertentu. Ini dikarenakan kita seringkali harus menyesuaikan diri kita dengan peluang yang ada.

Nah, bagaimana kah kita seharusnya menata diri dalam mempersiapkan masa depan? Dengan menjadi spesialis, yang harus berani berjudi dengan masa depan kita? atau menjadi orang dengan banyak kompetensi, tapi tidak ada yang mendalam, untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan yang kita hadapi di Indonesia? Well, semoga artikel ini bisa memberikan sedikit pencerahan.

Belajar dari Huruf T

Kita bisa banyak belajar dari alam dalam menjalani hidup ini; mencoba menggali berbagai nilai yang bisa kita gunakan. Salah satunya adalah proses belajar dari huruf ‘T.’ Konsep yang menarik, karena saya ada beberapa dosen dan pembicara dalam berbagai seminar yang sempat menyampaikannya.

SisiΒ  Vertikal dari Huruf T

Secara kasat mata bisa diamati bahwa bagian vertikal dari huruf T berukuran sempit dan mendalam. Ini merepresentasikan kompetensi pada bidang-bidang tertentu, yang cukup sempit, namun dengan pengetahuan yang sangat mendalam.Bidang-bidang inilah yang menjadi kompetensi utama kita. Pilihan untuk beberapa bidang yang menjadi kompetensi utama kita bisa didasarkan pada bidang ilmu kita, pada kecenderungan kita, minat-minat/hobi khusus, atau alasan-alasan lain.

Yang pasti, setelah kita memilih kawasan yang ‘sempit’ tersebut, kita harus berjuang terus untuk membuatnya semakin dalam. Karena hal inilah yang menjadi spesialisasi kita, yang membedakan diri kita dengan kebanyakan orang, yang membuat kita lebih berharga dibandingkan dengan orang lain. Sangat disarankan kita bisa mempunyai tingkat kompetensi yang sangat mendalam pada bidang ini, bahkan boleh se-unik dan se-sempit mungkin.

Bagi seorang dokter, barangkali ini bisa menjadi spesialisasinya. Misalnya dokter spesialis jantung, khusus bilik kanan, di bagian ujung kiri atas. Untuk seorang pemain bola, bisa memilih peran sebagai defender (bek), bek kiri, yang paling jago dalam mengumpan lewat lemparan ke dalam. Seorang petani bisa saja memfokuskan pada pada tani buah-buahan, buah nangka, dan khusus nangka dari Jepara. Dan sebagainya.

Pemilihan spesialisasi ini bukan bermaksud untuk mengkotak-kotakkan diri kita, atau membatasi kompetensi diri kita, tetapi justru sebaliknya. Spesialisasi ini membantu kita untuk lebih mengenal diri kita dan menentukan peran apa yang paling maksimal yang bisa kita hasilkan. Ibarat suatu rumah yang terdiri atas berbagai bagian, yang masing-masing mencoba berfungsi maksimal dalam memainkan perannya, baik sebagai genting di paling ujang atap, atau sebagai tiang di bagian depan sebelah kanan rumah. Semua itu memberikan kita ruang untuk menjadi yang terbaik dan berperan maksimal pada bidang berdasarkan kompetensi dan kecenderungan kita masing-masing.

Sisi Horizontal dari Huruf T

Di lain sisi, T juga mempunyai bagian lain, yakni bagian “horizontal” yang panjang dan cenderung lebih tipis. Hal ini berupa analogi bahwa kita juga dituntut untuk memiliki wawasan yang luas dalam berbagai hal, mulai dari isu politik, olahraga, bahkan guyonan di RT/tetangga kita, di samping kompetensi yang mendalam kita. Kita tidak harus tahu secara mendalam, cukup tahu secara sepintas saja.

Kompetisi umum ini juga yang menjadi dasar/fondasi dari kompetensi khusus kita, sebagai suatu tuntutan/tanggung jawab atas apa yang kita jalani/miliki. Bagi seorang mahasiswa IT, minimal dia perlu tahu konsep pemrograman, paham gambaran singkat tentang basis data, sepintas tentang jaringan serta minimal bisa baca bahasa Inggris; walaupun dia lebih milih untuk berfokus sebagai system analyst atau project manager. Hal yang sama juga berlaku untuk seorang ahli ekonomi. Walau dia berfokus pada pajak, minimal harus punya wawasan (walau hanya sekilas) tentang akuntansi, ekonomi kerakyatan, dll (ndak tahu byk ttg ekonomi hehe.. :D)

Hal ini sangat penting untuk menjaga kita bisa berinteraksi dengan orang lain; supaya kita tidak tampak seperti robot di mata orang umum: jago di bidang kita, tapi cupu banget di bidang lain. Sebagai mahasiswa, misalnya, selain mempunyai kemampuan mendalam pada bidang kita (akademik, wirausaha, bahasa Inggris, robotika, organisatoris, dll), kita juga dituntut untuk mempunyai kompetensi umum seperti bisa berteman, bisa presentasi di kelas, mampu bekerja dalam tim, pengetahuan agama, bisa bahasa Inggris (minimal Janglish-lah,, a.k.a Java English, alias English medhok :D) serta tahu isu-isu yang beredar di kampus.

Jadi T yang lengkap

Well, mari kita mencoba menemukan peran dan kompetensi unggulan kita, sambil terus berupaya untuk memupuk kemampuan-kemampuan umum kita.

Jika ada saran/masukan, silahkan jangan sungkan-sungkan untuk meninggalkan komentar.

salam,
nasikun

Advertisements